Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Jenis Puisi Baru

6 min read

Jenis puisi baru

Apa yang kalian ingat dari Film Roman Picisan dan film AADC? Saya yakin yang kalian ingat adalah puisi-puisi yang dibacakan oleh masing-masing tokoh utama film tersebut. Bahkan mungkin, gara-gara film itu, kalian jadi terinspirasi untuk menulis puisi ya, hehe..

Sebelum menulis puisi, kalian mesti paham juga bahwa puisi itu terdiri dari banyak jenisnya; ada puisi lama, puisi baru, dan lainnya.

Nahdi dalam artikel ini saya akan bahas mengenai jenis-jenis puisi baru secara komprehensif. Simak baik-baik ya..

Pengertian Puisi Baru

Puisi baru adalah jenis puisi lama yang tidak terikat oleh aturan-aturan baku dengan kata lain dibuat bebas oleh pengarang.

Maksud kata bebas disini adalah puisi ini baik dalam segi suku kata, jumlah baris maupun rima, nama pengarang pun juga ikut dicantumkan.

Ciri-ciri Puisi Baru

Untuk membedakan antara jenis puisi lama dan puisi baru terdapt perbedaan yang signifikan, perbedaan itu dapat dilihat dari karakteristiknya puisi baru, antara lain:

  • Bentuk puisi baru, tergolong rapi dan simetris.
  • Memiliki persajakan akhir yang teratur.
  • Pola yang dominan yaitu pola sajak pantun dan syair.
  • Hampir semua merupakan puisi empat seuntai
  • Setiap baris terdiri atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis) saling berhubungan.
  • Setiap gatra terdiri dari 2 kata atau 4-5 suku kata.
  • Diketahui nama pengarangnya.
  • Dalam perkembangannya secara lisan dan juga tertulis.
  • Menggunakan majas atau gaya bahasa yang dinamis (berubah-ubah).
  • Tidak terikat pada sebuah aturan.
  • Dibuat atas dasar kemauan sang pengarang puisi (penulis).

Jenis-jenis Puisi Baru

Sama halnya seperti puisi lama. Puisi baru pun banyak jenisnya. Namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu berdasarkan isinya dan berdasarkan bentuknya.

Jenis Puisi Baru Berdasarkan Isinya

Berdasarkan isi atau bahasan dalam puisi, puisi baru dibedakan menjadi 7 jenis yaitu hymne, balada, romansa, ode, epigram, satire, dan elegi.

Baca juga: Jenis paragraf

Hymne

Hymne merupakan sebuah puisi yang berisi pujian untuk Tuhan, dewa, pahlawan, tanah air, atau almamater (dalam dunia sastra). Dewasa ini, hymne menjadi sebuah puisi yang dinyanyikan.

Contoh:

Tak Pernah Pergi
Karya: Candra Malik

Hanya namamu kupanggil,
Cinta dan Rindu menggigil.
Engkau adlah jiwa itu sendiri,
engkau bagiku badan ruhani.

Segala yang t’lah kuserahkan,
menjelma sebagai kesunyian.
Darimu aku belajar tentang sepi,
darimu aku belajar menyendiri.

Derita dan bahagia adalah kini,
terasa sama saja di dalam hati.
Hidup adalah tentang sekarang,
tentang datang, tentang pulang.

Engkau t’lah menanam dasar,
Biarlah ini yang kugenggam tegar.
Engkau tak pernah pergi,
selalu hadir dengan wujud suci.

Bagiku tiada yang tiba-tiba,
dan bagiku Dia Maha Seketika.
Perjalanan adalah pengasuhan,
dan engkau adalah pengalaman.

Balada

Balada merupakan sebuah puisi yang berisi kisah atau cerita tertentu. Jenis puisi baru ini terdiri dari 3 bait, dengan masing-masing bait terdiri atas 8 baris.

Skema rima yang digunakan dalam balada adalah a-b-a-b-b-c-c-b  kemudian beralih dengan skema rima  a-b-a-b-b-c-b-c.

Contoh:

Balada Pembungkus Tempe
Karya: W.S. Rendra

Fermentasi asa,
Mengharap sempurna.
Bentuk utuh nan konyol,
Rasa, karsa tempe.

Pembungkus yang berjasa,
Penuh kisah bertulis duka lara;
Dibuang tanpa dibaca.

Pembungkus tempe,
Bukan plastik tapi kertas usang tak terpakai
Masihkah ada yang membelai sebelum membuangnya?

Romansa

Kata romansa berasal dari bahasa Perancis yaitu “romantique” yang berarti keindahan perasaan perasaan, persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.

Romansa adalah puisi baru yang merupakan luapan perasaan cinta kasih.

Contoh:

Surat Cinta
Karya: WS Rendra

Kutulis surat cinta ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi rambut mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah.
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercinta-cintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istiku!

Ode

Ode merupakan puisi yang berisi sanjungan atau pujian untuk orang yang berjasa. Kata-kata yang digunakan bernada anggun tapi resmi (metrumnya ketat).

Contoh:

Teratai
Karya: Sanusi Pane

Dalam kebun di tanah airku,
Tumbuh sekuntum bunga teratai.
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia,
Daun berseri Laksmi mengarang.
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, O Teratai Bahagia,
Berseri di kebun Indonesia.

Biar sedikit penjaga taman,
Biarpun engkau tidak dilihat.
Biarpun engkau tidak diminat,
Engkau turut menjaga Zaman.

Epigram

Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani “epigramma”  yang berarti unsur pengajaran, didaktik, nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, iktibar, atau teladan.

Contoh:

Kepada Kawan
Karya : Chairil Anwar

Sebelum ajal mendekat dan menghianat,
Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat;
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa.

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam;
Layar merah berkibar hilang dalam kelam.
Kawan, mari kita putuskan kini di sini,
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri.

Jadi,
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan.
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan,
Peluk kuncup perempuan, tinggalkan kalau merayu.
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tembatkan pada siang dan malam.

Dan,
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat;
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit siapa saja.

Jadi,
Mari kita putuskan sekali lagi.
Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi.
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu,
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!

Satire

Satire adalah jenis puisi yang berisi sindiran. Satire Berasal dari bahasa Latin satura yang berarti sindiran, kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena, tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, korup, zalim, dll.).

Tokoh sastrawan yang terkenal dengan karya satirenya adalah W.S. Rendra.

Contoh:

Jangan Ganggu Kesetiaanku
Oleh: Iringan Bayu Senja

Jangan hunuskan senyum manismu untukku..
Sebab kutahu itu hanya bernilai semu..
Jangan hujamkan lirikan mata elangmu padaku..
Sebab ku tau itu juga bernilai palsu..

Jangan pula kau lebarkan tawamu untukku..
Sebab kutahu itu juga hanya basa basimu..
Jangan kau tawarkan apapun padaku..
Sebab itu hanya kan sakiti orang terkasihmu..

Sedang aku, jikapun yang kau tawarkan berasal dari hatimu..
Maka tetap saja aku tak akan mau..
Aku menjadikan kehidupan kasihku atas dirimu..

Berlalu lah dan biarkan peradaban waktu..
Menjawab semua maumu..
Aku sudah setia tapi kau masih selingkuh juga..

Elegi

Berkebalikan dengan romansa, elegi merupakan puisi yang berisi tentang kesedihan. Puisi ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa duka, sedih, rindu, terutama karena kepergian seseorang atau penyesalan di masa lalu.

Contoh:

Sia-sia
Karya: Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan untukmu

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Jenis Puisi Baru Berdasarkan Bentuknya

Berdasarkan bentuknya, puisi baru dapat dibedakan menjadi 9 jenis yakni soneta, quatrain, kuint, septime, oktaf/stanza, distikon, sektet, terzina, dan prosa liris.

Soneta

Soneta adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua. Dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris.

Soneta berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara. Jadi soneta secara harfiah berarti puisi yang bersuara.

Di Indonesia, soneta masuk dari Negeri Belanda diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itu mereka berdualah yang dianggap sebagai Pelopor/Bapak Soneta Indonesia.

Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya dan yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya yaitu (empat belas baris).

Contoh:

Pagi-Pagi
Karya: M. Yamin

Teja dan cerawat masih gemilang,
Memuramkan bintang mulia raya;
Menjadi pudar padam cahaya,
Timbul tenggelam berulang-ulang.

Fajar di timur datang menjelang,
Membawa permata ke atas dunia;
Seri-berseri sepantun mulia,
Berbagai warna, bersilang-silang.

Lambatlaun serta berdandan,
Timbul matahari dengan pelahaan;
Menyinari bumi dengan keindahan.

Segala bunga harumkan pandan,
Kembang terbuka, bagus gubahan;
Dibasahi embun, titik di dahan.

Quatrain

Quatrain adalah puisi yang terdiri atas empat baris dalam tiap baitnya (puisi empat seuntai).

Contoh:

Pada Suatu Hari Nanti
Karya: Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi.
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau takkan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tal terdengar lagi.
Tapi diantara larik-larik sajak ini,
Kau akan tetap kusiasati.

Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi.
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau takkan letih-letihnya kucari.

Quint

Quint adalah puisi yang terdiri atas lima baris dalam tiap baitnya (puisi lama seuntai).

Contoh:

Mampir
Karya: Joko Pinurbo

Tadi aku mampir ke tubuhmu,
Tapi tubuhmu sedang sepi;
Dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka,
Dan aku tidak berani melongoknya

Septime

Septime adalah puisi yang terdiri atas tujuh baris dalam tiap baitnya (tujuh seuntai).

Contoh:

Pasien
Karya: Joko Pinurbo

Seperti pasien keluar masuk rumah sakit jiwa,
kau rajin keluar masuk telepon genggam;
melacak jejak suara tak dikenal yang mengajakmu.
kencan di kuburan pada malam purnama,
Aku pakai celana merah. Lekas datang, ya.
Kutengok ranjangmu: tubuhmu sedang membeku,
menjadi telepon genggam raksasa.

Oktaf/Stanza

Oktaf/stanza adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain, atau puisi delapan seuntai).

Contoh:

Lagu Angin
Karya: WS Rendra

Jika aku pergi ke timur,
arahku jauh, ya, ke timur.
Jika aku masuk ke hutan,
aku disayang, ya, di hutan.
Aku pergi dan kakiku adalah hatiku,
Sekali pergi menolak rindu.
Ada duka, pedih dan airmata biru,
tapi aku menolak rindu.

Distikon

Distikon, adalah puisi yang terdiri atas dua baris dalam tiap baitnya (puisi dua seuntai).

Contoh:

Kurcaci
Karya: Joko Pinurbo

Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam,
dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.

Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah,
sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.

Sektet

Sektet adalah puisi yang terdiri atas enam baris dalam tiap baitnya (puisi enam seuntai).

Contoh:

Ranjang Ibu
Karya: Joko Pinurbo

Ia gemetar naik ke ranjang,
Sebab menginjak ranjang serasa menginjak;
Rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.
Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,
Serasa terdengar gemeretak tulang.

Terzina

Terzina adalah puisi yang terdiri atas tiga baris dalam tiap baitnya (puisi tiga seuntai).

Contoh:

Aku Ingin
Karya: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan;
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan;
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Prosa Liris

Prosa liris merupakan suatu bentuk karya sastra yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif yang disajikan seperti bentuk prosa, namun menggunakan bahasa berirama yang biasa digunakan dalam puisi.

Walaupun ia boleh dikatakan terletak antara prosa dan puisi, namun karena memenuhi kaidah puisi (khususnya irama, diksi dan majas), maka prosa liris tergolong dalam jenis puisi.

Prosa liris eksis dalam semua zaman sejak zaman Puisi Lama hingga zaman Puisi Kontemporer saat ini.

Al Qur’an selaku Kitab Suci ditulis dengan menggunakan gaya bahasa prosa liris. Dalam zaman Puisi Lama karya prosa liris misalnya Kaba Sabai Nan Aluih  (Tulis St. Sati) dan Hikayat Cindur Mata  (Aman Dt. Majoindo).

Walapun sangat langka, dalam zaman Puisi Baru dan Puisi Kontemporer masih ada saja penyair yang menulis dalam bentuk prosa liris.

Contoh:

Rindu Kebisuan
Pujangga Pinggiran (sebuah Prosa Liris)
Oleh: Masril Habib

Dendang-dendang seperti membisu. Sejauh perjalanan jiwa melukis kefanaan. Semua yang terlihat, adalah beku dan mati. Sendiri, dan berdiri dalam rajutan Yang Maha Perkasa, Aku, seorang lelaki yang memiliki cinta.

Dan cerita dunia di bawah sengatan kesulitan dan kehendak. Memiliki nasib yang tertulis dalam daun-daun layu, ia adalah bagian semesta yang menjalar. Di sini, menyebut nama tempat-tempat singgah.

Penutup

Demikian artikel tentang jenis puisi baru beserta pengertian dan contohnya. Bagi kalian yang membutuhkan materi mengenai jenis frasa dan jenis pidato kalian bisa mempelajarinya disini.

Semoga materi tentang jenis puisi baru, yang dipaparkan diatas mudah dimengerti dan dapat dijadikan referensi  dalam pembelajaran kalian.

Terima kasih.

Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Pengertian Ringkasan

Malik fauzan
4 min read

Pengertian Latar

Malik fauzan
3 min read

Pengertian Kata Serapan

Malik fauzan
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *