BerandaKulturNama Rumah Adat Betawi

Nama Rumah Adat Betawi

Rumah Kebaya merupakan nama rumah adat suku Betawi yang mayoritas masyarakatnya berada DKI Jakarta. Sekilas, nama rumah Kebaya terdengar seperti jenis pakaian adat Sunda, bukan?  Benar sekali!

Jadi awal mula penamaan rumah Kebaya ini, terinsipirasi dari bentuk atapnya yang menyerupai pelana yang dillipat, dan apabila dilihat dari samping akan tampak layakanya lipatan pada baju Kebaya.

Secara umum, terdapat 4 jenis nama rumah adat Betawi, yaitu; rumah Kebaya, Gudang, Joglo, dan Panggung.

Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah penjabaran dari ke-4 rumah adat suku Betawi.

1. Rumah Kebaya

Rumah resmi suku Betawi

Rumah Kebaya atau dikenal sebagai rumah Bapang merupakan rumah adat Betawi asli yang mempunyai bentuk atap menyerupai pelana yang dilipat layaknya lipatan pada baju Kebaya.

Rumah adat ini mempunyai karakteristik teras yang luas serta terdapat bangku, kursi dan meja, hal ini menunjukan bahwa orang Betawi mempunyai sifat terbuka dan menghargai siapapun.

Selain itu, rumah adat ini juga dikelilingi pagar dengan tinggi sekitar 80 cm yang terbuat dari kayu, nama lain dari pagar rumah Kebaya adalah “langkan”.

Pagar tersebut dibuat bukan tanpa maksud, melainkan sebagai bentuk bahwa orang Betawi akan membatasi dari hal-hal yang berbau negatif, terutama dalam sisi keagamaan.

Di dalam rumah Kebaya juga terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda, berikut di antaranya:

  • Paseban, ruangan ini berbentuk seperti kamar yang digunakan untuk menginap bagi para tamu. Jika kamu hendak berkunjung kemudian menginap. Nah, nanti kamu akan ditempatkan di ruangan ini.
  • Teras, ruangan luas sebelum pintu masuk yang dilengkapi dengan meja dan kursi untuk menerima tamu ataupun sebagai tempat bersantai.
  • Pangkeng, ruangan ini digunakan untuk bersantai anggota keluarga pada malam hari sehingga hubungan antar keluarga semakin hangat dan akrab.
  • Srondoyan, ruangan ini disebut juga dapur. Ruangan ini terletak dibagian paling belakang dan jadi satu dengan ruang makan.
  • Ruang tidur, tempat untuk beristirahat, biasanya di dalam Rumah Kebaya terdapat empat ruang tidur. Dimana ruangan yang paling besar ditempati oleh pemiliki rumah.

Material Pembuatan Rumah Kebaya

Pada zaman dulu, rumah Kebaya umumnya hanya dimiliki oleh mereka yang termasuk golongan orang terpandang.

Sebagai rumah adat resmi bagi suku Betawi, tentu saja rumah Kebaya mempunyai berbagai macam keunikan di dalamnya, salah satu di antaranya yaitu dari segi material yang digunakan.

Material pada rumah Kebaya digolongkan menjadi tiga macam yaitu; material pondasi, material dinding, dan material atap.
1. Material Pondasi

Pondasi pada rumah Kebaya terbuat dari susunan batu kali dengan sistem umpak yang diletakkan di bawah setiap kolom.

Sedangkan untuk landasan dinding menggunakan pasangan batu bata, dengan kolom yang terbuat dari kayu nangka
2. Material Dinding

Dinding pada rumah Kebaya biasanya menggunakan kayu gowok/ kayu nangka yang di cat dengan warna cerah, seperti; warna hijau/ kuning.

Sedangkan untuk dinding lainnya menggunakan anyaman yang terbuat dari bambu dengan/ tanpa pasang bata dibagian bawahnya.

Pada bagian daun pintu terdapat jalusi (lubang udara) agar udara dalam ruangan selalu berganti. Hal ini bertujuan untuk membuat ruangan tetap segar dan sirkulasi udara tetap terjaga.
3. Material Atap

Atap pada rumah adat ini terbuat dari genteng tanah liat, namun ada juga yang menggunakan atep (daun kirai berbentuk anyaman).

Sedangkan untuk kontruksi kuda-kuda gording (blok induk yang bertugas menahan elemen struktur rangka atap) menggunakan kayu gowok atau bisa juga menggunakan kayu kecapi.

Reng sebagai dudukan atap genteng, terbuat dari bambu yang dibelah dengan ukuran 2 cm × 3 cm atau 3 cm × 4 cm.

Sedangkan kaso berfungsi sebagai dudukan reng yang terbuat dari bambu utuh dengan ukuran 4 cm × 6 cm atau 5 cm × 7 cm.

Setiap reng menggunakan bambu tali, yaitu bambu yang batangnya (setelah dibelah-belah) dapat dijadikan tali. Diameter untuk kaso adalah 4 cm.

2. Rumah Gudang

Rumah Adat Betawi

Nama rumah adat Betawi yang ini mungkin terdengar asing bagi kamu, karena biasanya rumah Gudang terletak di daerah terpencil dengan bentuk bangunan yang masih asli.

Rumah Gudang berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang bervariasi. Konon, rumah ini terinspirasi dari beberapa bangunan gudang milik Portugis, hanya saja atapnya dibentuk seperti pelana kuda dengan susunan kerangka kuda-kuda khas Betawi.

Sementara pada bagian depan rumah adat ini terdapat atap miring yang disebut markis/ topi. Markis ini berfungsi sebagai penahan paparan sinar matahari dan air hujan.

Tidak seperti rumah adat Betawi lainnya, rumah ini hanya ada dua bagian, yaitu; bagian depan dan bagian tengah. Sementara untuk bagian belakang disatukan dengan bagian tengah.

Bagian depan digunakan sebagai tempat untuk menerima dan menjamu tamu. Sedangkan bagian tengah digunakan untuk ruang keluarga, makan, ruang tidur, dan lain-lain.

3. Rumah Joglo Betawi

Rumah adat Joglo Betawi

Bentuk bangunan dari Rumah Joglo Betawi hampir mirip seperti rumah Joglo yang berada di Jawa Tengah. Perbedaanya, jika atap rumah Joglo Jawa memakai tiang penyangga, lain halnya dengan rumah Joglo Betawi yang menggunakan struktur kuda-kuda biasa.

Pada umumnya rumah Joglo Betawi memiliki denah seperti bujur sangkar. Walaupun begitu, tetap bentuk sebenarnya adalah persegi panjang yang salah satu garis panjangnya terdapat dari kiri ke kanan ruang depan.

Di bagian dalam pada rumah Joglo terdapat tiga ruangan utama dengan fungsi berbeda, antara lain yaitu:

  • Ruang depan atau disebut juga serambi depan digunakan untuk menerima tamu.
  • Ruang tengah digunakan untuk berkumpul bersama keluarga.
  • Ruang belakang sebagai dapur dan kamar mandi.

Biasanya jenis rumah adat ini terletak di wilayah perkotaan dan dimiliki oleh masyarakat dengan status sosial yang cukup tinggi.

4. Rumah Panggung Betawi

Rumah Panggung Betawi

Rumah Panggung merupakan salah satu rumah asli suku Betawi. Rumah adat ini dibangun oleh orang Betawi yang bertempat tinggal di daerah pesisir atau di daerah aliran sungai.

Pemilihan bentuk rumah panggung disesuaikan dengan lingkungan sehingga diharapkan bisa menghindari luapan air sungai, air laut, atau binatang buas.

Adapun tangga penghubung yang menghubungkan antara bangunan utama dengan daerah luar disebut “balaksuji” yang mengandung makna sebagai penghalang masuknya bencana ke dalam rumah dan sebagai media penyucian diri sebelum masuk ke rumah.

Material yang digunakan dalam pembuatan rumah Panggung sebagian besarnya adalah kayu, karena selain mudah dibentuk, kayu juga juga mudah untuk ditemukan.

Pada jenis rumah adat Betawi ini banyak terdapat ornamen-ornamen khas Betawi yang sederhana namun unik. Bentuk ornamen tersebut berupa ukiran yang berbentuk geometris, seperti; segi empat, belah ketupat, hingga lingkaran. Ornamen ukiran ini dapat ditemukan pada daun pintu, jendela rumah, dan bagian rumah lainnya.

Rumah Panggung khas Betawi ini bisa ditemukan di daerah Marundo Pulo, Jakarta Utara, beberapa kondisinya sudah tidak terawat karena di tinggalkan pemiliknya. Namun, terdapat satu rumah Panggung yang hingga kini masih dijaga dan diletarikan, itu adalah Rumah Si Pitung yang lokasinya berada di kelurahan Marunda.

Tinggalkan komentar