Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Nama Rumah Adat Betawi

4 min read

Rumah suku Betawi

Rumah Kebaya. Rumah adat ini merupakah nama rumah asli suku Betawi yang mayoritas berada DKI Jakarta.

Sekilas, nama rumah Kebaya terdengar seperti jenis pakaian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Namun, tahukah kamu mengapa rumah adat ini disebut rumah kebaya?

Disebut rumah adat Kebaya karena bentuk atapnya menyerupai pelana yang dilipat dan apabila dilihat dari samping terlihat seperti lipatan baju kebaya.

Rumah adat Betawi terdiri dari 3 jenis, yaitu; rumah Kebaya/ rumah Bapang, rumah Gudang, rumah Joglo, dan rumah Panggung.

Namun secara resmi nama rumah adat Betawi adalah rumah Kebaya. Berikut deskripsi dari masing-masing rumah adat tersebut.

Rumah Adat Kebaya

Rumah tradisional Suku Betawi

Rumah kebaya merupakan sebutan nama rumah adat suku Betawi. Rumah adat ini memiliki ciri khas berupa atap seperti pelana yang dilipat.

Jika atap rumah dilihat dari samping maka atap akan terlihat seperti lipatan kebaya. Dari situlah mengapa rumah adat ini diberi nama rumah Kebaya.

Di setiap sudut rumah adat Kebaya juga terdapat banyak ornamen identitas rumah adat, seperti; gigi balang dan banji.

Gigi balang merupakan papan berbentuk segitiga yang terlihat seperti gigi belalang. Ornamen ini merupakan simbol suku Betawi yang memegang teguh kejujuran dan kerja keras seperti belalang.

Sedangkan ornamen banji memiliki bentuk tumbuh-tumbuhan, seperti bunga matahari. Bunga matahari berarti sumber kehidupan dan terang, maka penghuni rumah memiliki pola pikir dan jiwa yang terang agar menjadi anutan bagi penghuni sekitarnya

Di dalam rumah adat ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda, berikut diantaranya:

  • Paseban; Ruangan ini berbentuk seperti kamar yang digunakan untuk menginap bagi para tamu. Jika kamu hendak berkunjung kemudian menginap. Nah, nanti kamu akan ditempatkan diruangan ini.
  • Teras; Salah satu ciri khas dari rumah adat ini ialah teras yang luas. Biasanya terdapat meja dan kursi yang berfungsi untuk bersantai dan beristirahat bersama keluarga. Selain itu tempat ini juga seringkali digunakan untuk menerima tamu.
  • Pangkeng; Ruangan ini berfungsi sebagai tempat bersantai keluarga pada malam hari. Ruangan ini biasanya digunakan untuk sekedar bersenda gurau para anggota keluarga.
  • Srondoyan; Ruangan ini disebut juga dapur. Ruangan ini terletak dibagian paling belakang dan jadi satu dengan ruang makan.
  • Ruang Tempat Tidur; Seperti rumah adat pada umumnya, rumah Kebaya juga memiliki ruangan untuk tidur. Rumah adat Kebaya memiliki 4 ruangan tidur. Biasanya ruangan kamar dengan ukuran paling besar di tempati oleh pemiliki rumah sendiri.

Material untuk Membangun Rumah Kebaya

Pada zaman dahulu orang yang menempati rumah adat Kebaya adalah golongan orang terpandang.

Rumah Kebaya merupakan nama rumah adat resmi Betawi yang mempunyai keunikan tersendiri berbeda dengan rumah adat yang lain.

Material yang digunakan untuk membangun rumah adat ini terbagi menjadi 3, yaitu:

Material Pondasi

Pondasi pada rumah adat Kebaya terbuat dari susunan batu kali dengan sistem umpak yang diletakkan di bawah setiap kolom.

Sedangkan untuk landasan dinding menggunakan pasangan batu bata, dengan kolom yang terbuat dari kayu nangka

Material Dinding

Material yang digunakan dinding depan biasanya berupa kayu gowok/ kayu nangka yang di cat dengan warna cerah, seperti; warna hijau/ kuning.

Sedangkan untuk dinding lainnya menggunakan anyaman yang terbuat dari bambu dengan/ tanpa pasang bata di bagian bawahnya.

Pada bagian daun pintu terdapat jalusi (lubang udara) agar udara dalam ruangan selalu berganti. Hal ini bertujuan untuk membuat ruangan tetap segar dan sirkulasi udara tetap terjaga.

Material Atap

Atap pada rumah adat ini menggunakan material genteng atau atep (daun kirai berbentuk anyaman).

Sedangkan untuk kontruksi kuda-kuda gording (blok induk yang bertugas menahan elemen struktur rangka atap) menggunakan kayu gowok atau bisa juga menggunakan kayu kecapi.

Reng sebagai dudukan atap genteng, terbuat dari bambu yang dibelah dengan ukuran 2 cm × 3 cm atau 3 cm × 4 cm.

Sedangkan kaso berfungsi sebagai dudukan reng yang terbuat dari bambu utuh dengan ukuran 4 cm × 6 cm atau 5 cm × 7 cm.

Setiap reng menggunakan bambu tali, yaitu bambu yang batangnya (setelah dibelah-belah) dapat dijadikan tali. Diameter untuk kaso adalah 4 cm.

Nilai Filosofis Rumah Kebaya

Filosofi rumah adat Kebaya

Rumah adat Kebaya memiliki teras yang luas disertai meja dan kursi, hal ini tentu memiliki nilai filosofis tersendiri.

Ruang teras yang luas tersebut mengandung arti bahwa orang Betawi senantiasa terbuka (selalu menghargai tamu yang datang).

Orang Betawi tidak membeda-bedakan, siapapun orang yang datang bertamu tetap akan diterima dengan ramah.

Walaupun berbeda keyakinan suku, orang Betawi akan tetap menerima dan menjamu tamu seperti halnya tamu lain. Karena orang Betawi mempunyai sifat baik, ramah, tidak kasar, suka menolong, dan selalu menerima perbedaan keragaman etnis.

Rumah adat Kebaya biasanya dilengkapi dengan pagar yang mengelilingi rumah. Hal ini menggambarkan walaupun orang Betawi terbuka, tapi mereka tetap memiliki batas terhadap hal yang negatif.

Rumah Gudang

Rumah Gudang Sumatera Utara

Walaupun nama rumah adat kebaya yang resmi menjadi rumah adat Betawi. Tapi tidak ada salahnya untuk kamu mengetahui beberapa hal mengenai rumah Gudang.

Rumah Gudang merupakan rumah adat Betawi yang keberadaannya terletak di daerah terpencil.

Rumah adat ini menjadi salah satu rumah yang bangunannya masih terbilang asli dan belum tercampur oleh budaya lain.

Ciri khas dari rumah adat Gudang, antara lain:

  • Rumah adat ini mempunyai bentuk persegi panjang dengan ukuran yang bervariasi.
  • Atapnya berbentuk pelana dengan struktur yang tersusun dari kerangka kuda-kuda.
  • Bagian depan rumah terdapat atap miring yang disebut markis/ topi. Markis ini berfungsi sebagai penahan paparan sinar matahari dan air hujan.

Tidak seperti rumah adat Betawi lainnya, rumah adat ini hanya ada dua bagian, yaitu; bagian depan dan bagian tengah. Sementara untuk bagian belakang disatukan dengan bagian tengah.

Bagian depan digunakan sebagai tempat untuk menerima dan menjamu tamu. Sedangkan bagian tengah digunakan untuk ruang keluarga, makan, ruangan tidur, dll.

Rumah Joglo

Rumah adat Joglo Betawi

Rumah adat ini memiliki bentuk atap yang mirip dengan bangunan adat Jawa. Perbedaannya rumah adat Betawi ini tidak ada penyangga seperti rumah Joglo di Jawa Tengah.

Rumah adat Joglo berbentuk bujur sangkar yang terbagi menjadi 3 ruangan, yaitu;

  • Ruang depan (serambi depan) untuk menerima tamu.
  • Raung tengah digunakan untuk berkumpul bersama keluarga.
  • Ruang belakang sebagai dapur dan kamar mandi.

Kebanyakan rumah Joglo terletak di wilayah perkotaan. Namun, seiring berjalannya waktu rumah ini sudah menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar.

Rumah Panggung

Rumah panggung Suku Betawi

Rumah Panggung merupakan salah satu rumah asli suku Betawi. Rumah adat ini dibangun oleh orang betawi yang bertempat tinggal di pesisir pantai.

Bangunan ini dibentuk seperti rumah Panggung karena letaknya yang berada di pesisir pantai sehingga menuntut mereka untuk membentuk rumah “seperti ini” agar terlindung dari terjangan ombak laut dan air pasang.

Adapun material untuk pembuatan rumah adat ini adalah bambu/ kayu yang tingginya sekitar 1,5-1 m dari dasar tanah.

Rumah adat Panggung ditopang dengan banyak tiang-tiang, tapi tergantung dari besar kecil/ panjang lebarnya sebuah bangunan.

Pada rumah adat ini juga terdapat Balaksuji, yaitu tangga yang digunakan untuk naik ke rumah. Balaksuji memiliki makna sebagai penghalang masuknya bala bencana ke dalam rumah.

Balaksuji juga termasuk media untuk penyucian diri sebelum masuk ke kedalam rumah.

Penutup

Demikian pembahasan mengenai nama rumah adat Betawi. Kita sudah sepatutnya bangga menjadi warga negara Indonesia karena memiliki rumah-rumah adat tradisional warisan nenek moyang yang masih eksis hingga sekarang.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!

Makasih udah mampir.

Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *