Pengertian Musik Tradisional

Memaparkan pengertian musik tradisional beserta jenis dan contohnya yang wajib dilestarikan!

Secara garis besar, jenis karya seni musik dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu musik modern dan musik tradisional.

Musik tradisional merupakan musik yang terpengaruh oleh adat, tradisi serta budaya masyarakat tertentu. Dalam pembawaanya musik tradisional seringkali ditampilkan dengan bahasa, gaya, tradisi yang khas.

Hal ini karena di setiap daerah ataupun negara selalu mempunyai ciri khas yang berbeda sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.

Pengertian Musik Tradisional

Jenis musik tradisional Indonesia

Musik tradisional adalah musik yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat, dipertahankan sebagai sarana hiburan.

Adapun tiga komponen yang berpengaruh dalam perkembangan musik tradisional, yaitu; seniman, musik itu sendiri, dan masyarakat yang menikmati.

Dalam konteks ini bisa diartikan bahwa musik tradisional merupakan upaya pewarisan secara turun-temurun masyarakat sebelumnya bagi masyarakat selanjutnya.

Jenis Musik Tradisional

Berikut beberapa jenis musik tradisional nusantara, antara lain sebagai berikut:

1. Musik Karang Dodou

Musik Karang Dodou merupakan jenis musik tradisional daerah khas Tanah Siang, daerah Barito Utara yang terletak di Kalimantan Tengah.

Biasanya musik ini difungsikan untuk kegiatan ritual/ upacara tertentu, misalnya; memandikan bayi atau memberikan nama bayi yang dikenal dengan upacara Noka Pati, serta mengobati orang sakit yang disebut dengan upacara Nambang Morua.

Dalam pembawaannya lagu-lagu dalam musik Karang Dodou bersifat religi, berupa; mantera yang berisi doa kepada “Mohotara” (Tuhan yang Maha Esa).

2. Musik Huda

Musik tradisional Huda merupakan jenis musik daerah yang cukup berkembang di Nusantara yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Sebagai provinsi yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, tidak heran jika musik Huda pun bernuansa Islami dengan penggabungan tiga jenis musik, yaitu; Dikil Rabaro, Dikil Mundan, dan Salaulaik Dulang.

Dikil Rabaro adalah vokal senior yang memakai Rabaro sebagai iringan.

Dikil Mundan termasuk senior vokal yang memakai Mudan sebagai iringan.

Salaulaik Dulang merupakan seni vokal yang berfungsi sebagai ritem atau iringan.

Dalam memainkannya, ke-3 musik tersebut di inovasikan/ digabungkan hingga menjadi komposisi musik yang utuh dan sempurna bunyinya.

3. Musik Gong Luang

Gong Luang merupakan jenis musik tradisional Bali yang berfungsi sebagai pengiring upacara adat atau digunakan sebagai pengiring tarian tradisional, seperti; tari topeng, pendet, rejeng, dsb.

Berdasarkan sejarah, Gong Luang diperkiran berasal dari kerajaan Majapahit yang kemudian dibawa ke Bali oleh sekelompok orang setelah Majapahit mengalami kemunduran.

Penamaan kata Gong Luang sendiri berasal dari kata “Gong” yang mengacu pada nama alat musik, dan “Luang” yang berarti kurang.

Dalam hal ini dikatakan jika perangkat Gong tersebut kurang lengkap, sebab itulah dinamakan sebagai Gamelan Gong Luang.

Untuk memainkan musik Gong Luang membutuhkan 25-30 jenis alat musik saja, seperti; kendang, suling, jublag, gangsa, jegog, saron, dan lain-lain.

Tentu saja jumlah tersebut sifatnya dinamis artinya berbeda-beda tergantung dengan daerahnya masing-masing.

Keunikan dari musik Gong Luang, yaitu memiliki 7 tangga nada (ndang, ndaing, nding, ndong, ndeng, ndeung, dan ndung). Sedangkan untuk larasnya terdiri dari pelog, salendro, salendroan.

4. Musik Santi Swara dan Laras Madya

Santi Swara dan Laras Madya merupakan jenis musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Diperkirakan jenis musik ini sudah ada sejak abad ke-17 tepatnya pada masa pemerintahan Paku Buwana ke-V.

Penamaan alat musik ini berasal kata “Santi” yang berarti doa dan “Swara” artinya suara/ lagu. Sedangkan “Laras” memiliki arti irama dan “Madya” artinya bersahaja.

Jika digabungkan menjadi Santi Swara Laras Madya yang berarti doa yang dilantunkan dalam senandung lagu dan irama-irama yang bersahaja.

Musik Santi Swara dan Laras Madya berfungsi sebagai pengiring shalawat (lagu pujian bernafaskan Islam) dengan bentuk lagu Jawa yang bernada slendro dan pelog yang digarap dengan memasukan unsur karawitan.

Alat musik utama yang dipakai untuk mengiringi jenis musik tradisional ini yaitu; kendang, bogem, dan kemanak.

Tidak ada perbedaan yang begitu mencolok dari kedua jenis musik tersebut, hanya saja jika Santi Swara membawakan lagu bersyair shalawat, sedangkan Laras Madya menggunakan tembang macapat, seperti; mijil, sinom, kinanthi, asmaradana, dan lainnya.

5. Musik Gaghahanggase

Musik Gaghahanggase merupakan jenis musik tradisional khas Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. Gaghahanggase adalah perpaduan dari beberapa jenis alat musik yang bersifat diatonis maupun non-diatonis.

Beberapa instrumen musik Gaghahanggase diantaranya adalah musik bambu, kentel, seheng, tambur, karoncongan, tatengkorang tagonggong, behohang, dan kalikitong.

Lagu yang dibawakan adalah jenis lagu daerah atau nasional serta dinyayikan oleh vokal pria dan wanita.

6. Musik Tabuh Salimpat

Tabuh Salimpat merupakan jenis musik tradisional khas Lampung yang masih dilestarikan dan dimainkan hingga sekarang.

Musik Tabuh Salimpat terdiri dari beberapa alat musik tabuh (rebana) dan alat musik petik (gitar). Instrumen yang paling menonjol dalam musik ini adalah instrumen kerenceng dan gambus lunik.

Fungsi utama Tabuh Salimpat yaitu sebagai pengiring upacara adat dan alat komunikasi dalam bentuk lagu yang disebut Sesimbatan atau pantun bersahutan, serta dapat juga menjadi iringan gerakan tari.

7. Musik Krombi

Musik Krombi merupakan jenis musik tradisional Papua. Krombi berasal dari kata “Nai Krombi” yang berarti memetik/ memainkan.

Mbref atau Gauto merupakan nama alat musiknya, biasanya terbuat dari seruas bambu yang kemudian dililit menggunakan rotan di kedua ujungnya.

Agar menghasilkan bunyi layaknya senar, biasanya akan ditambahkan penyangga sehingga bilah sayatannya menjadi lebih kuat dengan beberapa lubang yang terletak dibagian bawah bambu.

Musik tradisi Krombi berfungsi sebagai pengiring dalam acara-acara tertentu seperti untuk hiburan, upacara adat, dan upacara keagamaan.

8. Musik Syair Telimaa

Musik Syair Telimaa adalah jenis musik tradisional yang berasal dari daerah Tanah Mandalam, Bumi Uncok Kapuas, Kalimantan Barat.

Syair Telimaa merupakan salah satu syair musik terkenal, diantara Samoing Syair dan dikalangan syair lainnya.

Zaman dulu, syair ini kerap digunakan untuk acara hiburan, pengiring seni tari, hingga upacara adat.

Makna dari syair Telimaa berisi pesan agar para generasi muda mempertahankan dan melestarikan nilai luhur budaya nenek moyang.

Contoh Musik Tradisional

  • Goong Renteng, musik tradisional Sunda yang memakai gamelan sebagai instrumen musiknya. Alat musik Goong Renteng terdiri dari alat musik bilah, alat musik berpencon dan idiofon.
  • Krumpyung, musik tradisional yang berasal dari Kulon Progo, Yogyakarta.  Musik dimainkan dengan alat musik yang terbuat dari bambu semacam angklung yang nada suaranya seperti gambang dan gong bumbung tiup.
  • Gambang Kromong, musik tradisional Betawi yang menggunakan nada pentatonis (lima nada) dengan perpaduan alat musik Tiongkok.
  • Sasando Gong, musik tradisional Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari bambu dengan daun lontar dan kawat halus, dimainkan dengan cara dipetik.
  • Panting, musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Beberapa instrumen yang digunakan diantaranya panting, babaun, agung, marakas, dan talinting.
  • Senandung Jolo, musik tradisional yang berasal dari Desa Tanjung, Kec. Kumpeh Ilir, Kab. Muaro Jambi. Instrumen utama yang digunakan adalah Gambang kayu, alat musik yang terdiri dari 4 bilah kayu Marelang.

Demikian pembahasan kita kali ini mengenai pengertian musik tradisional yang sudah diulas secara lengkap, semoga bermanfaat.

1 komentar untuk “Pengertian Musik Tradisional”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *