Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

√ 7 Rumah Adat Jawa Timur | Filosofi, Keunikan, Pembagian Ruangan Beserta Ciri-cirinya

6 min read

Rumah adat jawa timur

Rumah Adat Jatim – Indonesia adalah negara yang memasuki posisi ke-5 untuk kepadatan penduduk terbanyak di dunia,

Setelah negara brazil yang menepati posisi ke-4 di dunia. Kepadatan penduduk tersebut berdampak besar untuk Indonesia.

Dampak besar tersebut seperti munculnya keragaman suku, adat, budaya,
agama, dan masih banyak lagi keragaman yang ada di indonesia.

Rumah adat adalah salah satu keragaman yang dimiliki oleh indonesia dan rumah adat menjadi salah satu kebudayaan yang sangat populer.

Rumah adat di setiap daerah juga memiliki nama khas sendiri hal tersebut untuk menjadikan ciri khas identitas di setiap daerah.

Daftar Rumah Adat Jawa Timur

Ada banyak sekali rumah adat di Indonesia, salah satunya rumah adat yang ada di Jawa Timur yang dikenal dengan nama Joglo.

Selengkapnya, yuk kupas satu persatu mengenai rumah adat Jawa Timur, antara lain:

Rumah Adat Joglo

Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa Timur yang bentuknya seperti rumah adat Jawa Tengah.

Rumah joglo mempunyai atap yang besar dengan mengambil bentuk menyerupai sebuah gunung. Bentuk atap yang menyerupai gunung inilah yang membuat rumah joglo ini terlihat megah.

Filosofi Rumah Adat Joglo

Rumah adat jawa timur yang satu ini yaitu Rumah Joglo dibangun sejak zaman kuno.

Pada zaman dahulu hanya para bangsawan yang memiliki rumah Joglo ini untuk menerima tamu dengan jumlah yang banyak.

Hal tersebut menjadikan rumah Joglo dibangun untuk menunjukkan strata atau status sosial tertentu dalam masyarakat.

Namun seiring berkembangnya zaman kini rumah Joglo tidak hanya dimiliki oleh seorang bangsawan akan tetapi dimiliki oleh semua orang.

Rumah Adat Jawa Timur yaitu Rumah Joglo mengambil perlambang gunung karena gunung memiliki arti yaitu kedudukan tinggi dan sakral dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Selain itu, gunung diyakini oleh masyarakat Jawa sebagai rumah para dewa sehingga gunung yang disimbolkan sebagai atap rumah adat jawa timur yaitu rumah Joglo ini diberi nama Tajug.

Baca juga : Rumah adat Sumatera Selatan

Keunikan Rumah Adat Joglo

  • Semua bangunan terbuat dari kayu jati
  • Setiap Ruangan dari rumah joglo terdapat arti tersendiri
  • Gunung adalah sebagai simbol dari rumah joglo
  • Rumah yang terkesan megah
  • Atap Rumah berbentuk limas dan mengrucut seperti gunung

Jenis Rumah Adat Joglo

Rumah Adat Jawa Timur yaitu Rumah Joglo memilki banyak jenis, antara lain:

1. Rumah Adat Joglo Hageng

Dahulu, rumah ini sering diidentikkan dengan bangsawan atau orang kaya di daerah Jawa Timur.

Ukuran bangunan ini tergolong sangat luas jika dibandingkan joglo Sinom atau Pangrawit, namun lebih pendek dari jenis joglo lain.

Desainnya pun terbilang cukup rumit karena pilar-pilar yang tersebar di semua penjuru rumah, belum lagi luas halamannya yang didesain mewah, yang mana mencirikan strata sosial.

Ciri-ciri Joglo Hageng, antara lain:

  • Memilki konsep desain arsitektur yang rumit
  • Memilki banyak pilar dan halaman yang lebih luas
  • Ukuran ruangan yang yang lebih pendek
  • Memilki atap rumah yang tumpul
  • Biasanya Rumah Joglo Hageng ini dimilki oleh keluarga yang berpenghasilan lebih mencukupi

2. Rumah Adat Joglo Sinom

Karakteristik rumah ini terletak pada jumlah pilar bangunannya yang mencapai 36 buah dengan 4 pondasi utama atau biasa disebut saka guru. Selain itu atap utama yang biasanya terletak di tengah, memiliki ukuran lebih tinggi jika dibandingkan dengan atap jenis joglo lainnya.

Keunikannya yang lain yaitu bangunan secara keseluruhan memiliki ukuran lebih kecil dari joglo, dengan luas pekarangan yang sempit.

Ciri-ciri rumah Joglo Sinom, antara lain:

  • Rumah yang memilki 36 pilar dan 4 ska guru
  • Konsep bangunan yang mengunakan teras keliling
  • Masing-masing puncak dari keempat sisi, di desain secara tinggi dan bertingkat

3. Rumah Adat Joglo Pangrawit

Tiap sudut bangunan jenis ini memiliki tiang penyangga dengan atap yang menjulang, namun sedikit tumpul dari joglo Hageng dan Sinom.

Pada bagian atap juga terdapat lambing gantung sebagai ciri khasnya yang unik. Jika dibandingkan dua jenis joglo sebelumnya, luas bangunan ini termasuk ke dalam kategori sedang.

Ukurannya lebih besar dari Joglo Sinom, namun lebih kecil dari joglo Hageng.

Ciri-ciri Rumah Joglo Pangrawit, antara lain:

  • Memiliki konsep desain arsitek yang detail daripada Joglo Sinom
  • Halaman rumah yang luas dengan jumlah pilar yang lebih banyak
  • Rumah Joglo Pangrawit memiliki bentuk atap yang menjulang dan mengrucut dengan setiap sudutnya memiliki pilar

4. Rumah Adat Joglo Jompongan

Atap joglo ini memiliki ciri khas atap bersusun 2 dan mempunyai bumbungan atap yang memanjang ke samping kanan dan kiri.

Pertemuan antara kedua atap tidak dipisahkan oleh pembatas. Bangunan joglo jompongan mempunyai denah lantai cenderung bujur sangkar.

Bangunan joglo jompongan tidak banyak ditemukan ornamen hiasan pada atapnya, berbeda dengan joglo lawakan yang terdepat ornamen pada atapnya.

5. Rumah Adat Joglo Situbondo

Joglo Situbondo adalah rumah adat provinsi Jawa Timur, Meskipun memiliki nama Joglo, namun rumah adat ini berbeda dengan rumah tradisional Joglo di Jawa Tengah.

Kegunaan rumah ini adalah sebagai rumah tempat tinggal, namun ada juga yang memanfaatkannya sebagai peninggalan bersejarah

Adapun ciri-ciri dari Rumah Adat Joglo Situbondo:

  • Rumah Joglo Situbondo biasanya diemukan di daerah Ponorogo
  • Memilki bangunan yang kokoh dari kayu jati
  • Material kayu jati untuk bahan dasar bangunan
  • Memilki susunan bangunan yang bisa menghubungan keharmonisan antara manusia dan sesama, serta hubungan manusia dengan alam sekitar

Pembagian Ruangan Rumah Adat Joglo

Rumah joglo Jawa Timur memiliki enam bagian, dimana setiap bagian memiliki makna yang sangat mendalam. Mulai dari pendopo, pringgitan, emperan, omah njero, sentong, dan gadhok.

Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Pendopo

Ruangan ini terletak di bagian paling depan sebuah rumah, bagian ini dibuat tanpa sekat yang hanya memiliki tiang penyangga dengan atap sebagai pelindung. Biasanya di bagian tengah pendopo terdapat empat pilar utama yang melambangkan empat mata angin.

Fungsi utama dari pendopo adalah sebagai tempat menerima tamu.

3. Pringgitan

Bentuk dari pringgitan biasanya berbentuk persegi tiga, dimana memiliki fungsi sebagai penghubung antara pendopo dengan rumah bagian dalam.

Fungsi dari pringgitan sendiri selain sebagai jalur menuju area dalam rumah, biasanya digunakan juga sebagai tempat pertunjukan wayang kulit.

4. Emperan

Sesuai namanya, bagian rumah ini biasanya berada di depan pendopo dengan bentuk seperti emper yang dilengkapi meja dan kursi.

5. Omah Njero

Ruangan ini merupakan bagian dalam rumah yang digunakan untuk berkumpul keluarga. Tempatnya pun sangat privat, karena hanya anggota keluarga pemilik rumah saja yang boleh berada di sana.

6. Sentong

Arti kata sentong sendiri adalah kamar. Dalam sebuah rumah tradisional Jawa Timur, setidaknya terdapat tiga macam sentong, antara lain:

  • Sentong Tengen

Sentong tengen adalah kamar di bagian kanan bangunan rumah, yang terdiri dari satu kamar atau beberapa.

Fungsi kamar ini sebagai kamar tidur anak-anak dan kedua orang tuanya.

Selain itu ada juga yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan.

  • Sentong Kiwa (Kiwo)

Sentong ini yang terletak di bagian kiri rumah. Kamar di bagian kiri ini fungsinya sebagai kamar orang tua atau para sesepuh. Biasanya ruangan ini terhubung langsung dengan bagian belakang termasuk dapur.

  • Sentong Tengah

Ruangan ini merupakan bagian paling utama dan suci. Kamar ini biasa digunakan untuk menyimpan barang berharga dan bersejarah.

7. Gandhok

Gandhok merupakan bagian tambahan dari rumah, yang berada paling belakang. Beberapa orang ada yang hanya membuatnya satu ruangan, namun ada juga yang membuat dua, yaitu di sisi kanan dan kiri rumah.

Fungsinya sendiri yaitu sebagai gudang, untuk gudang penyimpanan makanan atau barang yang lainnya, .

Rumah Adat Using

Rumah Adat Jawa Timur selanjutnya adalah Rumah Adat Using, yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, ujung timur dari Pulau Jawa yang berbatasan dengan Selat Sunda.

Rumah Adat Usang bisa ditemukan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Menariknya, Rumah Adat Jawa Timur ini masih terjaga keaslian nya,  sehingga membuat para wisatawan bisa merasakan suasana Banyuwangi seperti tempo dulu.

Adapun ciri-ciri Rumah Adat Using, antara lain:

  • Rumah Adat Usang memiliki bidang penutup atap 4 rab.
  • Baresan memiliki 3 rab, sedangkan yang memiliki 2 rab yaitu Rumah Adat Crocogan.
  • Memiliki 4 ruang yaitu ampuer, hek/baleh, jerumah,dan
  • Ruang ampetadalah ruang untuk menerima tamu.
  • Ruang hak/baleh adalah ruang untuk pembatas antara ruang publik dengan ruang privasi.
  • Ruang jerumuh adalah ruang tengah yang tidak boleh diketahui oleh orang atau bisa disebut dengan ruang rahasia.
  • Ruang Pawon adalah ruang yang digunakan untuk memasak atau bisa disebut ruang dapur.

Rumah Adat Suku Tengger

Rumah Adat Jawa Timur selanjutnya dibangun oleh masyarakat Suku Tengger yaitu Rumah Adat Suku Tengger.

Rumah Adat Jawa Timur yang satu ini terletak di Jawa Timur tepatnya di Lereng Gunung Bromo, Desa Ranupane, Kabupaten Lumajang.

Adapun Ciri-ciri Rumah Adat Suku Tengger, antara lain:

  • Rumah Adat Suku Tengger merupakan rumah yang tidak bertingkat dan bukan jenis rumah panggung.
  • Memiliki 2 jendela saja, untuk memberikan kesan atap tinggi dan terlihat terjal.
  • Struktur bangunan tersusun dari papan atau batang kayu.
  • Rumah adat Jawa Timur ini memiliki pola yang tidak teratur dan disusun bergerombol, saling berdekatan, dan hanya dipisahkan oleh setapak untuk jalan kaki.
  • Rumah Adat Suku Tengger pada bagian depan rumah memiliki bali-bali untuk tempat duduk atau lebih menyerupai dupan.

Rumah Adat Dhurung

Rumah adat Jawa Timur yang ini berbeda dengan rumah adat yang lainnya, yang terletak di Pulau Bawean yakni Kota Gresik, Jawa Timur, yaitu “Rumah Adat Dhurung

Istilah Dhurung memliki arti sebuah gubuk yang tidak berdinding yang terbuat dari kayu/bambu dan atap yang terbuat dari daun pohon dheun (dalam bahasa Bawean).

Rumah Adat Dhurung ini merupakan tempat beristirahat setelah pulang dari sawah, dan bisa juga untuk tempat sosialisasi antar warga, bahkan sampai dijadikan tempat untuk mempertemukan jodoh.

Adapun ciri-ciri Rumah Adat Dhurung, antara lain:

  • Salah satu rumah adat yang tidak terdapat dindingnya, seperti gubuk.
  • Rumah yang bisa menyimpang lumbung padi, dan dilengkapi jhelepeng semacam jebakan tikus.
  • Memiliki fungsi yang banyak yaitu tempat beristirahat, Sosialisasi, dan mempertemukan jodoh.
  • Tiangnya memiliki nilai seni ukir yang indah dan sulit untuk ditiru.

Rumah Adat Trajumas Lawakan

Rumah adat Jawa Timur ini sama halnya dengan rumah adat Limasan yaitu Trajumas Lawakan, dalam rumah adat ini sudah memakai emperan/teras yang mengelilingi bangunan.

Adapun ciri-ciri Rumah Adat Trajumas Lawakan, antara lain:

  • Bangunan memakai material kayu serat, kayu jati, kayu sonokeling, kayu glugu, kayu nangka, dll.
  • Memiliki emperan yang mengelilingi rumah.
  • Atap rumah yang terdiri dari 4 buah.
  • 20 tiang/saka sebagai struktur utama.

Baca juga : Rumah Adat Nusa Tenggara Timur

Rumah Adat Limasan Trajumas

Rumah adat limasan yang selanjutnya yaitu Limasan Trajumas, memiliki 6 buah tiang atau saka sebagai struktur pokok.

Karena memiliki 6 buah tiang, dan terdapat ander pada bagian tengah yang membagi rumah ini menjadi dua bagian ruang yang sama atau dapat kita sebut dua buah ruangan ini sebagai dua “rong-rongan”.

Rumah limasan ini mempunyai empat buah sisi atap seperti rumah tradisional limasan pada umumnya.

Bentuk sederhana ini merupakan kesatuan konstruksi rumah yang utuh dan unik sehingga sering dikolaborasikan dengan bentuk modern sebagai bungalow atau gazebo-gazebo yang berdiri sendiri secara terpisah dengan rumah induk yang lebih besar lagi.

Rumah Adat Limasan Lambang Sari

Di urutan terakhir ada rumah adat “Limasan Lambang Sari”, rumah ini berbeda dengan rumah joglo.

Limasan merupakan salah satu jenis ruamh arsitektur tradisional Jawa, yang mempunyai desain yang sederhana dan indah.

Rumah Limasan memiliki falsafah arti yang sosiokultural.

Adapun ciri-ciri Rumah Adat Limasan Lambang Sari, antara lain:

  • Bangunan terbuat dari kayu jati, sonokeling, kayu nangka, dan jenis kayu keras lainnya.
  • Bangunan rumah ini mempunyai ciri khas pada atapnya yakni terdapat balok yang menyambung antara ‘atap berujung‘ dan ‘atap penanggap
  • Memiliki satu buah ‘bubungan‘ atau ‘wuwungan‘ yang menghubungkan 4 sisi.
  • Tiang yang digunakan sebanyak 26 buah.
  • Bangunan yang dapat meredam suara gempa.
  • Atap yang dimiliki 4 buah sisi yang masing-masing mempunyai bentuk tersusun 2 buah.
  • Bangunan yang memiliki pondasi dengan nama “umpak” yang bisa digunakan untuk mengunci tiang.

Penutup

Nah, itulah pembahasan mengenai rumah adat Jawa Timur yang bisa saya jelaskan kepada kawan-kawan.

Semoga bermanfaat jangan lupa share artikel ini supaya lebih bermanfaat.

Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *