Rumah Adat Jawa Timur

Rumah adat Jatim

Sepintas, rumah adat Jawa Timur (umumnya disingkat menjadi Jatim) mirip dengan bentuk rumah adat lain di Provinsi Jawa Tengah, hanya saja memiliki nilai-nilai filosofi yang berbeda.

Salah satu filosofi terkenal yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Jawa Timur yaitu “urip iku urup”, yang berarti hidup itu harus bermanfaat bagi sesama.

Keunikan Rumah Adat Jawa Timur

Keunikan rumah adat Jatim

Rumah adat Joglo Jawa Timur dibangun dengan desain arsitektur yang cukup unik yang dipenuhi nilai filosofi.

Salah satunya adalah bentuk rangka atapnya yang dibuat cukup tinggi, karena terdapat 4 tiang yang lebih tinggi yang dipasang di tengah rumah atau disebut sebagai saka guru.

Sementara itu, bagian atap menggunakan genteng yang terbuat dari tanah liat dengan bentuk atap menyerupai gunung yang memiliki makna filosofi tersendiri.

Dalam pembuatan rumah Joglo material yang digunakan adalah kayu jati, karena mempunyai ketahanan yang tinggi sehingga dapat bertahan lama hingga puluhan tahun.

7 Jenis Rumah Adat Jawa Timur

1. Rumah Adat Joglo Jompongan dan Sinom

Rumah adat Jatim

Rumah Joglo Jompongan merupakan bentuk dasar dari rumah adat Joglo. Rumah adat ini berbentuk bujur sangkar dan menggunakan dua buah pengerat pada bangunan.

Ciri khas dari rumah Joglo Jompongan yaitu memiliki atap yang bersusun dua. Selain itu, terdapat bubungan atap yang memanjang ke samping kanan dan kiri.

Sementara itu, rumah Joglo Sinom merupakan rumah adat yang digunakan sebagai tempat tinggal. Rumah adat ini dibangun dengan tiang penyangga berjumlah 36 buah.

Baca juga: Rumah Adat Aceh

Dari seluruh tiang tersebut, hanya ada empat tiang utama atau saka guru. Rumah adat Joglo Sinom memiliki teras yang berada di bagian luar bangunan.

2. Rumah Adat Joglo Situbondo

Rumah adat Jawa Timur

Rumah Joglo Situbondo banyak ditemukan di daerah Jawa Timur. Rumah adat ini berbentuk limas atau dara geprak, dengan kayu jati sebagai penyangga utamanya.

Keunikan rumah adat Joglo Situbondo yaitu melambangkan Kejawen yang berakar pada sinkritisme

Rumah ini mempunyai tata ruang yang merepresentasikan keharmonisan antar sesama umat manusia dengan lingkungannya.

Bangunan depan dari rumah adat ini berupa pendopo dan badan rumah yang terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain:

  • Senthon tengen/ kamar kanan untuk dapur dan gudang.
  • Senthong kiwo/ kamar kiri untuk area kamar tidur.
  • Senthong tengah/ tempat menyimpan benda pusaka dan berharga.

Material pondasi rumah adat ini yaitu kayu jati yang dipadatkan dengan tanah, serta ornamen interiornya yang menunjukkan kepribadian masyarakat sekitar.

Pada bagian depan rumah adat terdapat sebuah makara atau selur gelung, yaitu pintu dengan hiasan yang dipercaya dapat mengusir hal negatif agar tidak masuk ke dalam rumah.

3. Rumah Adat Dhurung

Rumah adat Jawa Timur

Bentuk rumah adat ini cukup unik dan berbeda dengan rumah adat lainnya, yaitu mengusung bentuk seperti saung, tanpa menggunakan bambu atau kayu sebagai dindingnya.

Rumah Dhurung memiliki atap yang besar dan tinggi yang terbuat dari rumbai daun pohon dheum. Biasanya rumah adat ini digunakan masyarakat sekitar sebagai tempat berkumpul, bercakap, ataupun beristirahat.

Keunikan dari dari rumah adat ini yaitu seringkali dijadikan sebagai tempat ajang mencari jodoh. Oleb sebab itu, bangunan ini umumnya diletakkan pada area samping atau depan rumah.

Jika rumah Dhurung dibuat dengan berukuran besar, biasanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan lumbung padi lengkap dengan jhelepeng.

Namun sayanganya, untuk rumah adat yang satu ini termasuk langka dan sulit untuk ditemukan di Jawa Timur.

Baca juga: Rumah Adat NTB

4. Rumah Adat Using

Rumah adat Jatim

Rumah Using merupakan rumah tradisional suku Using yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur.

Hal unik yang menyelimuti rumah adat ini adalah bangunan-bangunan di sana masih dijaga keasliannya, sehingga membuat para wisatawan merasakan suasana Banyuwangi seperti tempo dulu.

Terdapat tiga jenis bangunan rumah Using, yaitu:

  • Rumah Tikel Balung dengan empat rab (bidang atap)
  • Rumah Baresan dengan tiga rab.
  • Rumah Crocogan dengan dua rab.

Pembagian ruangan dari ketiganya sama-sama memiliki empat ruang yakni hek/baleh (pembatas), ampet (teras), jerumaah (ruang tengah), dan pawon (dapur).

5. Rumah Adat Tengger

Rumah adat Jatim

Rumah Tengger merupakan rumah adat suku Tengger yang berada di daerah lereng Gunung Bromo, Jawa Timur.

Bangunan rumah adat ini memiliki kontruksi bubungan atap yang tinggi dengan penempatan 1-2 jendela. Material utama dalam pembuatannya adalah papan atau batang kayu.

Pada bagian depan rumah ini, terdapat bale-bale menyerupai dipan yang menjadi tempat duduk.

Uniknya, suku Tengger membangun rumah adat ini dengan pola tak teratur dan bergerombol dengan jarak antar rumah saling berdekatan, hanya dipisahkan oleh jalur pejalan kaki yang sempit.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi serangan cuaca dingin dan angin gunung.

6. Rumah Adat Limasan Lambang Sari

Rumah adat Jawa Timur

Sama halnya seperti bentuk limas, rumah adat juga memiliki atap berbentuk limas.

Namun, tidak seperti rumah limas pada umumnya, rumah Limasan Lambang Sari ini memiliki keunikan berupa pembentuk atap yang menggunakan balok penyambung.

Baca  juga: Rumah Adat NTT

Selain itu, terdapat 16 tiang rumah dan atap dengan empat sisi yang dihubungkan oleh satu bubungan kuat.

Pondasi dari rumah adat ini berbentuk umpak dengan alas tiang yang terbuat dari batu, dengan purus di tengah tiang bawah untuk mengunci tiang bangunan.

7. Rumah Adat Trajumas Lawakan

Rumah Trajumas Lawakan

Rumah Trajumas Lawakan merupakan bentuk modifikasi dari rumah adat Limasan Trajumas. Rumah ini dibangun dengan material kayu seperti kayu jati, sonokeling, glugu, dan lainnya.

Namun, seiring berkembangnya zaman, orang-orang mulai membangun rumah adat ini dengan material batu-bata dengan sedikit sentuhan modern.

Rumah Limasan Trajumas Lawakan memiliki emperan di sekeliling bangunan. Setiap emperan mempunyai kemiringan yang berbeda dari atap utama.

Di bagian tengah rumah terdapat tiang yang membentuk rong-rongan bagian dalam bangunan.

Atap dari rumah adat ini terdiri dari empat sisi yang tiap sisinya bersusun dua. Selain itu, terdapat 20 tiang utama yang berjajar rapi, sehingga bangunan tampak simetris dan stabil.


Referensi

  • Saintif.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *