Rumah Adat Kalimantan Tengah

Rumah adat Kalimantan Tengah
Rumah Adat Kalimantan Tengah – Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia yang dibagi menjadi beberapa provinsi.

Setiap provinsi di Kalimantan memiliki keunikan budaya dan adat istiadatnya masing-masing.

Keberagaman ini memberikan warna tersendiri bagi masyarakat di Pulau Kalimantan.

Salah satu keberagaman yang ada adalah macam-macam jenis rumah adat.

Kali ini, macam-macam Rumah Adat Kalimantan Tengah yang akan menjadi pembahasan.

Provinsi Kalimantan Tengah

Provinsi Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang ibu kotanya Kota Palangkaraya.

Dengan luas mencapai lebih dari 150.000 km, Kalimantan Tengah memiliki lebih dari 2.000.000 penduduk.

Terdapat 3 suku dominan yang tinggal di Kalimantan Tengah, yaitu Suku Dayak, Suku Jawa, serta Suku Banjar.

Sama seperti provinsi lain di Pulau Kalimantan, Kalimantan Tengah juga memiliki beeragam rumah adat yang berbeda-beda.

Filosofi Rumah Adat Kalimantan Tengah

Rumah Betang adalah rumah adat yang berasal dari Kalimantan Tengah.

Rumah ini dibuat tidak hanya sebagai tempat tinggal, melainkan memiliki nilai adat yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Rumah Betang memiliki beberapa fungsi, di antaranya untuk melindungi penghuni dari binatang buas, menghindari dari terjadinya banjir, dan melindungi penghuni dari serangan musuh.

Bentuknya yang memanjang memungkinkan agar rumah tersebut bisa menampung banyak orang.

Bisanya satu Rumah Betang ditinggali 5 sampai 30 kepala keluarga. Jumlah maksimal yang bisa ditampung Rumah Betang adalah 150 orang.

Banyaknya kepala keluarga yang bisa ditampung memudahkan mereka untuk saling berkomunikasi dan membantu.

Umumnya, Rumah Betang dibangun dengan meghadap timur dan hilir menghadap barat.

Hal ini menjadi simbol masyarakat Dayak dengan filosofi hulu menghadap timur yang bermakna kerja keras sedini mungkin.

Sedangkan hilir menuju barat bermakna tidak akan berhenti bekerja sebelum matahari tenggelam.

Ciri Rumah Adat Betang Kalimantan Tengah

Rumah adat betang yang terdapat di Kalimantan Tengah memiliki ciri khas unik yang mampu menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing. Agar lebih mengenali bangunan ini, sebaiknya Anda menyimak karakteristik rumah betang berikut.

Ciri-ciri rumah adat betang:

  1. Arah hulu bangunannya menghadap ke arah timur, sedangkan hilirnya ke arah barat.
  2. Tinggi bangunan adatnya yaitu tiga hingga lima meter dari permukaan tanah.
  3. Dinding rumah terbuat dari bahan kayu berarsitektur jengki.
  4. Memiliki bentuk atap pelana yang memanjang.
  5. Panjang bangunannya yaitu antara 30 meter hingga 150 meter.
  6. Terdapat satu tangga yang disebut hejot, satu pintu masuk, serta sebuah patung yang disebut rancak yang terletak di dekat area pintu masuk.
  7. Pada dinding dan tiangnya terdapat ukiran yang memiliki makna falsafah kehidupan suku Dayak.
  8. Di halamannya akan terlihat patung pemujaan atau dikenal dengan totem.

Rumah betang ini memiliki jenis yang beragam. Berikut beberapa jenis rumah adat betang beserta penjelasannya yang disertai fungsi dan perbedaan antara satu dengan lainnya.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Kalimantan Tengah

Ruangan pada Rumah Betang bisa dibagi menjadi 3 bagian, yaitu ruang utama, ruang bunyi gong, serta ruang ragawi yang tidak terlihat.

Ruang utama  adalah ruangan yang menghubungkan manusia dengan alam surgawi.

Ruangan kedua adalah ruangan yang menghubungkan manusia dengan penghuni surgawi.

Sedangkan ruangan ketiga adalah ruangan surgawi itu sendiri yang juga digunakan sebagai ruangan ragawi.

Melalui indetifikasi ruangan-ruangan yang ada pada Rumah Betang dan memahami bagian-bagian bangunannya secara arsitektural, serta menghubungkannya dengan cara berangkatnya roh ke alam surgawi dalam ritual tabuh pada upacara Tiwah dapat dipahami bahwa makna ruang pada arsitektur Rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan Tengah merupakan gambaran akan dua ruang yaitu ruang manusia dan ruang surgawi, yang tidak mengenal ruang bagi pendosa.

Nama, Ciri Khas, Dan Gambar Rumah Adat Kalimantan Tengah

1. Rumah Betang Muara Mea

 

Rumah Betang Muara Mea terletak di Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Rumah ini dibangun dengan tujuan melestarikan budaya yang ada di daerah tersebut.

Rumah Betang Muara Mea awalnya sangat sederhana, tetapi memiliki nilai budaya yang sudah semestinya dilestarikan oleh masyarakat.

Kini, pemerintah sudah menambahkan bangunan dapur di Rumah Betang Muara Mea supaya isinya lebih lengkap.

Rumah adat betang pertama ialah tambaba. Bangunan ini memiliki desain yang menggambarkan kehidupan suku Dayak pada umumnya. Bahan baku utama rumah ini yaitu berupa kayu dengan jenis ulin. Sehingga jika dilihat dari segi ketahanan arsitekturnya, tergolong sangat kuat.

Bangunan ini memiliki bentuk persegi panjang dan fungsinya sebagai tempat hunian untuk beberapa keluarga.

Karena dari segi desain masih sangat alami, jenis betang tambaba ini termasuk ke dalam salah satu warisan dan cagar budaya khas Kalimantan Tengah yang direkomendasikan untuk Anda kunjungi bila sedang ke sana.

2. Rumah Betang Tambaba

Di wilayah Barito Utara terdapat rumah adat yang dinamai Rumah Betang Tambaba.

Rumah ini juga merupakan rumah adat yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Bahan utama pembuatan bangunan rumah ini berasal dari alam, yaitu kayu ulin.

Tiang yang digunakan untuk menyangga Rumah Betang Tambaba juga terbuat dari kayu ulin.

Pembagian ruangan dalam Rumah Betang Tambaba tidak pernah berubah sejak dahulu hingga sekarang.

Hal tersebut selalu dilestarikan oleh masyarakat Dayak.

Pada umumnya suku asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak yang memiliki sub-etnis berupa Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai, Dayak Maanyan, Dayak Ot Danum, Dayak Siang, Dayak Murung, Dayak Taboyan, Dayak Lawangan, dan Dayak Dusun.

3. Rumah Betang Toyoi

Rumah Betang Toyoi terletak di Desa Tumbang Malahoi.

Di Desa tersebut terdapat upacara adat bernama tapung tawar.

Upacara adat ini berguna untuk mengusir roh jahat sebelum masuk ke dalam Rumah Betang Toyoi.

Rumah ini diberi nama sesuai dengan pendirinya, yaitu Toyoi Panji.

Seperti Rumah Adat Kalimantan Tengah pada umumnya yang dibangun dengan kayu ulin, Rumah Betang Toyoi pun demikian.

Kayu ulin yang digunakan untuk membangun rumah ini usianya bisa mencapai 150 tahun.

Rumah Betang Toyoi telah mengalami pemugaran sampai beberapa kali, tapi keasliannya masih tetap terjaga.

Bagian dalam Rumah Betang Toyoi dibuat menggunakan kayu ulin, sedangkan bagian luarnya dilapisi dengan kulit kayu ulin.

Rumah Betang Toyoi juga menggunakan tiang dengan bentuk bulat persegi yang semakin menambah keunikan rumah tersebut karena tiang yang bisa dibentuk sedemikian rupa hanya dengan alat yang sederhana tanpa paku sekalipun.

4. Rumah Betang Damang Batu

Rumah Adat Kalimantan Tengah -Betang Damang Batu
source: jhonronarojes.blogspot.com

Berikutnya ada betang damang batu. Rumah adat ini berlokasi di Gunung Mas, tepatnya desa Tumbang Anoi, Kahayan Hulu Utara. Jika warga sekitar ditanya siapa pendiri rumah dan kapan rumah ini dibangun? Warga sekitar akan menjawab bahwa menurut mereka Tamanggung Runjan yang berasal dari Tewah-lah yang membangunnya.

Tahun pembangunan rumah ini sekitar 1868, artinya ini menjadi salah satu rumah betang milik suku Dayak yang usianya sudah sangat tua. Damang batu arah bangunannya menghadap langsung pada sungai Kahayan.

Karakteristik Rumah Adat Kalimantan Tengah ini hampir sama seperti Rumah Betang lain, yaitu menghadap ke Sungai Kahayan.

Rumah ini dibangun pada tahu 1868 oleh Tamanggung Runjan yang merupakan penduduk Tehwan.

Saat situs Rumah Betang Damang Batu ditemukan, ia hanya berbentuk persegi empat memanjang, namun sekarang hanya tersisa tiang-tiangnya saja karena termakan usia.

5. Rumah Betang Desa Tumbang Bukoi

 

Sekarang ini sudah jarang ditemukan Rumah Betang yang merupakan tempat tinggal Suku Dayak asli.

Banyak Rumah Betang ditemukan telah mengalami pemugaran dan dibangun kembal.

Berbeda dengan fakta tersebut, Rumah Betang Desa Tumbang Bukoi justru masih dibangun dengan menyesuaikan dengan rumah struktur aslinya.

Rumah Betang Desa Tumbang Bukoi masih dibangun dengan menggunakan kayu ulin, sama seperti Rumah Adat Kalimantan Tengah pada umumnya.

Rumah inidigunakan secara komunaloleh masyarakat Dayak sehingga mereka lebih mudah berkomunikasi dan saling membantu.

6. Rumah Betang Sei Pasah

Rumah Betang Sei Pasah berada di Desa Sei Pasah, Kapuas Hilir, Kalimantan Tengah.

Rumah adat ini juga mengalami pemugaran karena saat ditemukan hanya tersisa bagian tiangnya saja.

Pada awalnya Rumah Betang Sei Pasah dimiliki oleh Talining E. Toepak.

Karena keterbatasan kayu ulin dan kayu besi, ketika dibangun kembali rumah ini menggunakan bahan-bahan modern.

Meskipun demikian, Rumah Betang Sei Pasah tetap meninggalkan susana Suku Dayak masa lalu di dalamnya.

Pada bagian belakang rumah adat ini terdapat kuburan atau sanding.

Kepercayaan agama Kaharingan mempercayai bahwa tulang manusia akan dikumpulkan dan diletakkan pada sadung.

Ada juga patung penjaga seperti sebuah ucapan selamat datang yang sekarang ini sudah dijadikan museum.

Pada awalnya, pembangunan rumah baru tersebut mengambil contoh dari Rumah Betang yang ada di Antang Kalang, namun akhirnya tidak jadi dan disesuaikan dengan kondisi terbatasnya kayu ulin.

7. Rumah Betang Pasir Panjang

Rumah tradisional selanjutnya yaitu jenis betang pasir panjang. Bangunan ini berlokasi di Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun. Memang di kabupaten ini masih banyak warga asli suku Dayak yang menetap dan menghuni rumah-rumah betang pasir panjang, bahkan jumlah warganya bisa mencapai ribuan.

Tidak heran bila rumah tradisional Kalimantan Tengah yang satu ini masih digunakan dan sangat dijaga kelestariannya.

Tidak hanya rumah adatnya yang unik, warganya pun juga masih menjalani adat istiadat dan aturan adat hingga saat ini. Beberapa di antaranya seperti upacara adat, tarian-tarian, serta acara kesenian khas daerah setempat.

Dari segi desain dan arsitektur, pasir panjang terlihat lebih tinggi dan besar di bagian atapnya. Untuk pintu masuk utamanya pun letaknya bukan di sisi yang memanjang, namun berada di sisi sampingnya lagi.

Panjang dan tinggi tangga rumah unik ini lebih banyak, tidak seperti betang lain yang biasanya hanya satu tangga panjang saja, dan menempel pada panggung rumah.

Rumah Betang Pasir Panjang terletak di daerah Pangkalan Bun, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat.

Tradisi leluhur masih dipegang dengan teguh oleh masyarakatnya bahkan sampai sekarang.

Jika berkunjung ke daerah rumah adat tersebut, banyak kegiatan adat istiadat yang disuguhkan, seperti upacara adat kesenian, hingga tari-tarian.

Rumah Betang Pasir Panjang termasuk masih alami karena bahan baku utama pembuatan dan struktur rumah masih sama dengan aslinya.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Betang Kalimantan Tengah

Ruangan pada rumah adat betang terbagi menjai beberapa bagian, di antaranya:

  • Sado

Merupakan jalan atau jalur lalu lalang siempunya ruma untuk kegiatan seperti musyawarah, tempat menumbuk padi, tempat menganyam, dan sebagainya.

  • Padong

Padong merupakan sebutan untuk ruang keluarga, digunakan untuk acara keluarga seperti bersantai, makan minum, hingga menerima tamu. Biasanya setiap kepala keluarga hanya memiliki satu padong.

  • Bilik

Bilik merupakan tempat tidur bagi siempunya rumah.

  • Dapur

Seperti halnya fungsi dapur pada umumnya, ruangan ini juga digunakan untuk memasak. Dalam satu rumah biasanya hanya memiliki satu ruang dapur dan letakknya di belakang.

8. Huma Gantung

 

Dan yang terakhir ada “Huma Gantung’ merupakan salah satu Rumah Adat Kalimantan Tengah.

Dalam bahasa Dayak, huma memiliki arti rumah, sedangkan gantung memiliki arti tinggi yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi Suku Dayak pada zaman dahulu.

Tinggi tiang yang digunakan adalah 4 m, namun ada juga yang lebih tinggi dan dilengkapi dengan tangga sebanyak 2 atau 3 susun.

Huma Gantung berbeda dengan Rumah Betang baik dari sisi luas maupun struktur bangunannya.

Huma Gantung tidak terlalu besar, namun tiang penyangganya lebih tinggi dari Rumah Betang.

Huma Gantung dihuni oleh beberapa keluarga secara turun temurun.

Kalimantan Tengah memiliki berbagai rumah adat yang masing-masing mempunyai keunikan.

Meskipun banyak yang sudah dipugar dengan sentuhan modern karena kurangnya bahan baku, adat yang dipegang masyarakat membuat nilai filosofis dari rumah tersebut tetap terasa.

Masyarakat Dayak sangat menghargai adat istiadat dan kebudayaan mereka.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Rumah adat Maluku
Baca yuk!

Rumah Adat Maluku

Banyak orang yang mengira bahwa rumah adat Maluku hanya rumah Baileo. Padahal itu hanya salah satunya. Oke, sebelum…
Rumah tradisional provinsi Bengkulu
Baca yuk!

Rumah Adat Bengkulu

Rumah adat di setiap daerah di Indonesia memang memiliki karakteristik yang khas, mulai dari segi arsitektur, filosofis, hingga…
Rumah adat Kalimantan Tengah
Baca yuk!

Rumah Adat Kalimantan Timur

Selain terkenal akan kekayaan alam, Kalimantan Timur (Kaltim) juga memiliki ragam kebudayaan yang khas seperti; bahasa daerah, adat,…