Rumah adat Kalimantan Tengah

Rumah Adat Kalimantan Timur

Selain terkenal akan kekayaan alam, Kalimantan Timur (Kaltim) juga memiliki ragam kebudayaan yang khas seperti; bahasa daerah, adat, istiadat, kuliner, suku-suku, hingga rumah adat kaltim itu sendiri.

Provinsi yang berada dibagian ujung timur Pulau Kalimantan ini, berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi. Total luas kaltim sekitar 127.346,92 km².

Sebelum dimekarkan menjadi Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Timur merupakan provinsi terluas kedua setelah Papua denga luas 194.489 km². Provinsi ini beribukota di Samarinda dan terkenal dengan julukan Bumi Mulawarman.

Sejarah Singkat Rumah Adat Kalimantan Timur

Secara historis, rumah adat Kalimantan Timur (Kaltim) adalah rumah Lamin. Awalnya rumah Lamin merupakan rumah identitas milik suku Dayak Kenyak.

Namun, pada tahun 1967 pemerintah Indonesia menetapkan dan menyatakan bahwa rumah Lamin resmi menjadi rumah adat Kalimantan Timur.

Nama Rumah Adat Kalimantan Timur

Walaupun rumah Lamin yang resmi menjadi rumah adat identitas provinsi Kalimantan Timur, terdapat juga beberapa rumah adat lainnya yang tidak kalah unik untuk dibahas.

Beberapa diantaranya adalah rumah adat Paser, rumah adat Betang, rumah adat Bulungan, rumah adat Wehea. Nah, dibawah ini akan dijelaskan dengan sangat lengkap. Simak ya!

1. Rumah Lamin

Rumah Lamin Suku Dayak Kalimantan Timur

Rumah Lamin merupakan rumah adat Kalimantan Timur yang memiliki gaya arsitektur yang unik dan khas.

Salah satu ciri khas dari rumah adat ini adalah ukuran bangunannya yang luas dengan panjang mencapai 300 m x 15 m x 3 m.

Keunikan dari rumah Lamin yaitu pada bagian atapnya terdapat hiasan kepala naga yang terbuat dari kayu.

Lamin sendiri mempunyai arti yaitu Rumah Panjang. Bagi masyarakat Dayak, rumah Lamin diibaratkan seperti sebuah desa, dimana seluruh anggotanya hidup bersama dengan membentuk sebuah komunitas yang pimpin oleh satu kepala adat.

Rumah Lamin berbentuk rumah panggung dan bisa menampung 100 orang/ 25-30 kepala keluarga yang hidup berkelompok.

Jenis rumah adat ini banyak digunakan sebagai tempat tinggal bagi suku Dayak Kalimantan Timur, terutama Etnis Benuaq.

Dalam proses pembangunan rumah Lamin, suku Dayak khususnya Benuaq menganut sistem kepercayaan ati tana yang meliputi beberapa hal sebagai berikut:

  • Lou/ Lamin merupakan jenis rumah panjang yang digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat dan ditinggali oleh sekelompok masyarakat.
  • Belay Jangkung merupakan rumah tunggal yang berada di sekitar rumah Lamin yang berfungsi sebagai dapur/ tempat menyimpan makanan.

Rumah Lamin biasanya dibuat dari material Kayu Ulin. Kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan awet.

Adapun warna yang digunakan pada bangunan rumah Lamin yaitu identik dengan warna kuning, hitam, merah, dan putih.

Bukan tanpa alasan, tentu saja masing-masing warna tersebut memiliki makna yang berbeda berdasarkan kehidupan masyarakat Dayak.

  • Warna kuning menjadi simbol kewibawaan.
  • Warna hitam merupakan simbol keteduhan.
  • Warna merah menjadi simbol keberanian.
  • Warna biru melambangkan kesetiaan.
  • Warna putih melambangkan kesucian jiwa.

Materi lainnya: Rumah Adat Padang

2. Rumah Adat Paser

Rumah suku Dayak Kaltim

Rumah adat Paser merupakan rumah tradisional suku Paser Kalimantan Timur (Kaltim). Rumah adat ini biasanya dibangun di kawasan tepi sungai, karena menurut mereka sungat memberikan banyak makanan.

Rumah Paser mempunyai bentuk rumah panggung dengan bentuk segi empat yang memanjang. Sebelum mengenal paku, awalnya masyarakat Paser menggunakan rotan sebagai pengikat struktur bangunan.

Rumah adat ini biasanya ditempati oleh 2-3 kepala keluarga, yang terdiri dari orang tua, anak menantu, maupun saudara dari Ibu/ Bapak.

3. Rumah Adat Betang

Rumah Betang Suku Dayak Kalimantan Timur

Rumah Betang merupakan rumah adat Kalimantan yang menjadi tempat tinggal bagi masyarakat Dayak.

Rumah adat ini memiliki ukuran yang sangat besar, dan mampu menampung banyak keluarga yang membentuk sebuah komunitas.

Rumah Betang atau disebut juga Lou, Lamin, dan Lewu Hante bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja melainkan sebagai pusat kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.

Sehingga tidak heran jika pembagian ruangan dalam rumah adat ini harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku secara turun-temurun.

Di dalam rumah adat ini juga terdapat ruangan los yang berfungsi sebagai pusat/ poros. Biasanya ruangan ini digunakan untuk acara pertemuan atau tempat kegiatan sosial masyarakat.

Adapun untuk kamar tidur disusun secara berjajar di sepanjang rumah Betang dengan ketentuan ruang tidur orang tua berada di paling ujung hulu aliran sungai. Sedangkan untuk anak paling bungsu (bontot) biasanya berada di ujung hilir sungai.

Sementara itu, untuk bagian dapur dibuat menghadap ke arah aliran sungai tujuannya yaitu agar rezeki yang didapatkan semakin lancar.

Baca juga: Nama Rumah Adat Betawi

4. Rumah Adat Bulungan

Rumah Bulungan Suku Dayak

Rumah adat Bulungan terletak di Kota Tanjung Selor, Kab. Bulungan, Prov. Kalimantan Timur.

Rumah adat ini memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi oleh kolonial dengan bentuk bangunan yang simetris dan formal.

Atap pada rumah adat ini berbentuk limas dengan jumlah tiga buah yang menjadi gambaran bahwa pernah terbentuk 3 istana di Bulungan.

Sementara pada bagian depan terdapat pilar penyangga yang membuat tampilan rumah Bulalang tampak semakin megah.

Walaupun ada pengaruh gaya arsitektur kolonial, namun bentuk atap rumah yang dilengkapi ornamen tanduk, dan dekorasi rumah yang dilengkapi ukiran motif bunga dan tumbuhan seakan-akan menjadi ciri khas tersendiri bagi masyarakat setempat.

Selain ukiran motif bungan dan tumbuhan, terdapat juga ukiran dalam bahasa Arab yang menunjukan gambaran pengaruh Islam pada masa itu.

5. Rumah Adat Wehea (Eweang)

Rumah adat Wehea (eweang) Kaltim

Rumah adat Wehea (eweang) merupakan rumah adat suku Dayak Wehea Kalimantan Timur (Kaltim) yang mendiami wilayah tepi sungai Wehea/ Long Msaq Teng dan Sungai Tlan.

Rumah adat ini mempunyai karakteristik dengan bentuk panggung yang saling terhubung langsung dengan jembatan. Sementara itu, struktur bangunanannya masih menggunakan rotan dan juga pasak kayu.

Pada umumnya suku Dayak Wehea tidak mengenal rumah Betang/ rumah Lamin seperti halnya suku Dayak di Kalimantan Timur, hal ini karena mereka tinngalnya di pedalaman hutan.

Ciri Khas Rumah Adat Lamin

Ciri khas rumah adat Kalimantan Timur

1. Bahan Konstruksi

Lazimnya rumah Lamin menggunakan kayu ulin sebagai bahan dasar kontruksi. Kayu ulin merupakan kayu khas hutan Kalimantan yang sudah terkenal akan kualitasnya yaitu kuat dan tidak mudah lapuk.

Keunggulan kayu ulin jika terkena air, maka akan bertambah keras dan kuat layaknya besi. Oleh karena itu kayu ini sangat cocok digunakan sebagai penyangga lantai/ dinding.

2. Kepala Naga di Atap Rumah Lamin

Pada bagian atap rumah Lamin terdapat sebuah ukiran berbentuk kepala naga yang terbuat dari kayu. Masyarakat setempat meyakini bahwa simbol tersebut melambangkan keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan.

3. Pembagian Ruangan

Ruangan dalam rumah adat Lamin terbagi menjadi tiga ruangan, yaitu; ruang tamu, ruang tidur, dan dapur.

  • Ruang tamu pada rumah Lamin berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu dan melaksanakan pertemuan adat. Ruangan ini memiliki bentuk yang panjang dengan ukuran yang cukup luas.
  • Ruang tidur pada rumah Lamin dibagi menjadi beberapa ruangan yaitu; kamar tidur khusus laki-laki, kamar tidur khusus perempuan dan kamar tidur bagi pasangan yang sudah menikah.
  • Dapur pada rumah adat Lamin terletak di bagian belakang rumah dan digunakan sebagai tempat untuk memasak/ menyimpan makanan.

Pelajari: Rumah Adat Suku Bali

4. Terdapat Ukiran

Ciri khas selanjutnya dari rumah adat Lamin adalah ukiran-ukiran etnik indah yang berupa gambar bermakna.

Ukiran-ukiran tersebut memiliki motif makhluk hidup seperti; tampilan wajah manusia, tumbuhan, hewan, dll.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa ukiran yang telah dibuat tersebut dapat menjaga keluraga dari bahaya ilmu hitam yang sewaktu-waktu bisa saja menyerang.

5. Warna Khas Rumah Lamin

Rumah lamin memiliki ciri khas berupa warna yang didesain kontras dan mampu menghiasi dasar dinding.

Adapun warna yang digunakan pada bangunan rumah adat Lamin yaitu identik dengan warna kuning, hitam, merah, dan putih.

Secara filosofis beberapa warna tersebut mempunyai makna, kuning adalah simbol kewibawaan, hitam adalah simbol keteduhan, merah berarti keberanian, putih adalah kebersihan jiwa.

6. Tangga dan Kolong Rumah

Tangga dalam rumah Lamin difungsikan untuk mengantar tamu/ pengunjung ke lantai rumah. Hal ini karena rumah Lamin mempunyai bentuk panggung, jadi sangat diperlukan tangga untuk menghubungkan ke dasar tanah.

Tangga yang digunakan pun terbuat dari kayu ulin sehingga sudah dipastikan kualitasnya tidak mudah lapuk/ dimakan rayap.

Sementara pada bagian kolong rumah biasanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil pertanian dan memelihara hewan ternak.

7. Aksesoris Rumah

Sudah dipastikan bahwa setiap rumah memiliki aksesoris, tak terkecuali dengan rumah adat Lamin. Nah, aksesoris yang ada dalam rumah Lamin biasanya terbuat dari logam seperti; guci, emas, senjata, dll.

Pada halaman rumah Lamin juga terdapat beberapa tonggak kayu yang diukir membentuk patung.

Patung-patung tersebut dibuat dengan ukuran tinggi nan besar. Masyarakat Dayak kuno menyebutnya dengan istilah Sambang Lawan yang fungsinya untuk mengikat hewan qurban dalam acara adat.

Selain sebagai hiasan dan dekorasi rumah, patung/ totem pada rumah Lamin juga dipercayai sebagai penjaga rumah dari malapetaka.

Penutup

Demikian pembahasan mengenai rumah adat Kalimantan Timur (Kaltim). Kita sudah sepatutnya bangga menjadi warga negara Indonesia karena memiliki rumah-rumah adat tradisional warisan nenek moyang yang masih eksis hingga sekarang.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *