Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Rumah Adat NTT

6 min read

Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang di Indonesia yang terletak dibagian tenggara Indonesia yang beribukota di Kupang, Timor Barat.

Provinsi Nusa Tenggara Timur terkenal akan keindahan pulau dan masuk ke salah satu provinsi yang terdiri dari banyak pulau diantaranya Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo, dan Palue.

Berbeda dengan provinsi lain di Indonesia, di provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki keragaman dan keunikan budaya sangat melimpah bahkan telah dikenal di dunia internasional.

Salah satunya Rumah Adat NTT tentunya merupakan salah satu ragam budaya yang ada di provinsi tersebut yang sangat menarik untuk dipelajari.

Rumah Adat  Nusa Tenggara Timur

Rumah adat adalah produk budaya berbentuk rumah atau bangunan yang memiliki gaya arsitektur, dekorasi, fungsi, bahkan nilai filosofi yang diciptakan oleh suku bangsa tertentu.

Hampir setiap wilayah atau suku bangsa di Indonesia memiliki rumah adatnya sendiri dan memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya, salah satunya yang bisa kita jadikan contoh adalah Rumah Adat yang berada di NTT.

Bahkan salah satu rumah yang berada di NTT ini berhasil mendapatkan penghargaan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)

Yuk, simak rumah apa saja yang berada di Nusa Tenggara Timur, berikut ini penjelasannya.

Rumah Adat NTT – Mbaru Niang

Rumah adat NTT - Mbaru niang
source: pesona.travel

Rumah adat ini bisa kalian temukan di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, lebih tepatnya di Desa Wae Rebo,

Rumah Mbaru Niang ini merupakan rumah yang memiliki lima tingkatan.

Bentuk atap dari rumah adat ini memang terbilang unik dan dan tidak biasa karena bentuk atapnya yang mengerucut hingga kebagian paling bawah (hampir menyentuh tanah).

Dengan kata lain atap dari rumah ini hampir menutupi seluruh bagian rumah.

Atap dari rumah Mbaru Niang ini terbuat dari daun lontar yang sudah dikeringkan.

Oh iya, Rumah adat Mbaru Niang ini adalah rumah adat yang berada di Flores dan salah satu rumah yang mendapatkan penghargaan Award Of Excellence dari UNESCO.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Mbaru Niang

1. Lutur

Lutur merupakan lantai pertama dari rumah adat Mbaru Niang.

Lutur biasanya digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Nusa Tenggara Timur yang bertempat tinggal dirumah ini.

Ruanganya terdiri dari kamar tidur seluruh anggota keluarga

2. Lobo

Lobo merupakan lantai kedua dari rumah Mbaru Niang, Lobo digunakan sebagai tempat untuk menyimpan bahan makanan.

3. Lentar

Lentar adalah lantai ketiga dari rumah Mbaru Niang. Fungsi dari ruangan ini sebagai tempat menyimpan benih tanaman

4. Lempa Rae

Jika lantai kedua digunakan untuk menyimpan bahan makanan, berbeda dengan lantai keempat yaitu Lempa Rae.

Ruangan ini digunakan masyarakat NTT sebagai tempat untuk menyimpan seluruh cadangan makanan.

5. Hekang Kode

Lantai kelima bernama Hekang Kode adalah  tempat yang disucikan oleh masyarakat NTT.

Alasannya, karena ruangan ini adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan sesajian (sesajen)

Keunikan Rumah Adat Mbaru Niang

Rumah Mbaru Niang ini berada diatas pegunungan, tepatnya berada diketinggian 1200 mdpl.

Karena kabut yang sering kali menutupi daerah pemukiman yang dimana rumah adat ini berada, menjadikan rumah adat Mbaru Niang mendapat julukan “Negeri di Atas Awan”

Hal unik lainnya yang ditemukan pada rumah ini adalah rumah adat ini hanya ditopang dengan satu tiang terbuat dari kayu warok.

Tiang ini diikatkan dengan kerangka rumah membentuk pola lingkaran berpusat.

Pola ikatan ini terinspirasi dari compang, yakni tumpukan batu tua yang mengelilingi bagian tengah pemukiman rumah adat Mbaru Niang.

Masyarakat setempat percaya bahwa compang dapat mejaga kestabilan dan keutuhan rumah dan mereka juga meyakini bahwa compang sebagai pusat kehidupan dan bentuk penghormatan kepada Tuhan.

Rumah Adat NTT – Musalaki

Rumah adat NTT - Musalaki
source: celticstown.com

Rumah adat NTT yang satu ini merupakan rumah yang paling banyak dijumpai, pemerintah bahkan telah menetapkan rumah adat Musalaki sebagai lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tidak lain dan tidak bukan adalah rumah adat Musalaki, kata Musalaki berasal dari bahasa Ende Lio dan terdiri dari dua kata, yaitu Mosa yang artinya ketua atau kepala dan laki memiliki arti adat atau suku.

Sesuai namanya, dapat ditarik kesimpulan bahwa rumah adat ini diperuntukkan sebagai tempat tinggal para ketua suku Ende atau kepala adat.

Keunikan dari rumah ini adalah:

Rumah ini hanya boleh dihuni oleh masyarakat setempat berjenis laki-laki.

Fungsi Rumah Adat Musalaki

Sesuai dengan namanya. Rumah adat Musalaki merupakan rumah khusus yang ditempati oleh kepala suku atau ketua adat suku Ende Lio.

Selain untuk rumah tinggal ketua adat, rumah ini juga di fungsikan sebagai tempat untuk melaksanakan upacara adat, musyawarah adat, dan acara-acara adat lainnya.

Karena memiliki banyak sekali fungsi, rumah adat asal Nusa Tenggara Timur ini dibangun dengan ukuran yang besar dan struktur yang kokoh.

Materialnya yang digunakan untuk membangun rumah ini sebagian besar menggunakan bebatuan, kayu, dan dedaunan.

Pembagian Ruangan Rumah Adat Musalaki

1. Struktur Kuwu Lewa/Pondasi

Bagian paling dasar pada rumah adat Musalaki adalah Kuwu Lewa.

Kuwu Lewa terbuat dari batu panjang yang tegak, yang berfungsi sebagai pondasi utama agar rumah ini dapat berdiri dengan tegak.

Fungsi lain dari Kuwu Lewa ini yaitu untuk mencegah bangunan tersebut roboh pada saat terjadinya gempa.

Tidak hanya itu, pada Kuwu Lewa juga terdapat kayu yang dijadikan sebagai tumpuan pondasi untuk menyangga atap rumah.

2. Struktur Maga/Lantai

Maga adalah lantai pada rumah adat Musalaki.

Di rumah adat ini, ada 2 jenis lantai, yaitu lantai Teo dan lantai Ndawa.

  • Lantai Teo adalah penyebutan lantai untuk teras yang letaknya berada di bagian luar rumah.
  • Sedangkan lantai Ndawa adalah lantai yang berada di bagian dalam rumah.

Jika dilihat, lantai Teo memiliki permukaan yang lebih tinggi daripada lantai Ndawa.

Struktur Wisu/Atas Lantai

Di atas lantai rumah adat Musalaki terdapat empat buah tiang kolom atau disebut dengan wisu dalam bahasa suku Ende Lio.

Keempat tiang tersebut disangga oleh palang balok kayu bagian atas (isi ine wawo) dengan panjang 4 meter dan palang balok kayu bagian bawah (isi mbasi) dengan panjang 4,5 meter. Ketinggian dari setiap tiang kolom yaitu 1,2 m.

Pada bagian tengah rumah juga terdapat satu tiang yang disebut dengan leke raja dengan panjang 1,2 m.

Pada setiap tihang dihias dengan ukiran-ukiran khas suku Ende Lio seperti motif binatang atau lainnya.

3. Struktur Atap

Rumah adat ini memakai jerami untuk membuat atap rumah. Jerami ini nantinya akan bertumpuan dengan rangka yang disebut dengan Saka Ibu.

Yang paling unik dari atap rumah adat ini adalah bagian dari kerangka atap yang dinamakan Leka Reja.

Leka Reja memiliki bentuk yang menjulang tinggi ke atas.

Rumah Adat NTT – Sao Ata Mosa Lakitana

Rumah adat NTT - Sao ata mosa lakitana
source: celticstown.com

Rumah adat ini bisa dibilang cukup unik karena bahan dasar yang menjadi pembuatan rumah adat ini, yakni terbuat dari dari atap ilalang dengan bentuk kerucut hingga menyentuh tanah.

Jenis Rumah Adat Sao Ata Mosa Lakitana

1. Amu Kelaga

Amu Kelaga adalah rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana yang memiliki bentuk seperti rumah panggung.

2. Amu Laburai

Rumah adat ini juga ada yang memiliki dinding yang terbuat dari tanah, yang disebut dengan Amu Laburai.

Bentuk Bangunan Rumah Adat Sao Ata Mosa Lakitana

1. Atap Joglo

Rumah adat ini memiliki atap yang berbentuk joglo saat pemiliknya merupakan masyarakat Nusa Tenggara Timur bersuku Sumba.

2. Atap Kerucut Bulat

Jika menemui rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana yang memiliki bentuk atap kerucut bulat, maka pemiliknya adalah suku Timor.

3. Atap Bentuk Perahu

Rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana yang memiliki bentuk atap seperti perahu yang sedang diperbaiki adalah milik suku Rote di Nusa Tenggara Timur.

Rumah Adat NTT – Sao Ria Tenda Bewa Moni

Rumah adat NTT - Sao ria tenda bewa moni
source: thisismymonumen.blogspot.com

Bukan hanya wilayah Wae Rebo yang memiliki rumah adat, wilayah lain di NTT juga memiliki rumah adat lain yang tidak kalah uniknya.

Rumah adat ini bernama Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara. Keunikan rumah ini terletak pada bahannya yang terbuat dari atap ilalang dengan bentuk kerucut dan hingga menyentuh tanah.

Rumah adat NTT yang satu ini juga memiliki tiga jenis yang berbeda, yaitu:

  • Tenda Bewa Moni Koanara atau rumah baku untuk menyimpan tulang-belulang leluhur.
  • Rumah tempat tinggal.
  • Lumbung padi.

Rumah tinggal pada rumah adat ini ditandai dengan adanya kepala kerbau di depannya.

Filosofi Rumah Adat NTT

Rumah adat NTT sama halnya dengan rumah adat lain yang memiliki nilai filosofis, lebih dari sekedar rumah untuk tempat tinggal, rumah adat juga memiliki makna yang sangat dalam.

Karena pada dasarnya hidup ini berkaitan dengan keseimbangan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Rumah adat NTT juga memiliki makna lain yakni sebagai tempat untuk “berkumpulnya” nilai religi, norma, estetika, serta budaya.

Rumah adat ini mencerminkan perilaku arif dari suku Lio.

Macam-Macam Rumah Adat NTT di Lio Flores Tengah

Di Lio Flores Tengah, terdapat banyak jenis rumah adat NTT, diantaranya:

  • Sao Ria sebagai tempat tinggal tiga mosalaki (Laki Puu, Laki Turu Tena Nata Ae, dan Laki RUU Tuu jaga tau Rara). Ketiga mosalaki ini memiliki peran pentingnya masing-masing.
  • Sao Labo sebagai tempat tinggal Laki Puu.
  • Sao Ndoja sebagai tempat tinggal Laki Tuu Nasu.
  • Sao Tua sebagai tempat tinggal Laki Dai Nua Ulu.
  • Sao Meko sebagai tempat tinggal Laki Koe Uwi.
  • Sao Leke Bewa sebagai tempat tinggal Laki Ria Bewa.
  • Sao Ndoka Ame sebagai tempat tinggal Laki Ndeto Au.
  • Sao Embu Laka sebagai tempat tinggal Laki Ndeto Au.
  • Sao Bewa sebagai tempat tinggal Laki Ndeto Au.
  • Sao Gamba Jati sebagai tempat tinggal Laki Gao Lo Kaka Taga.
  • Sao Wewa Mesa sebagai tempat tinggal Laki Dai Enga Ae Ulu Nanga Mau.
  • Sao Watu Gana sebagai tempat tinggal Laki Bei Nggo Lamba Wangga.
  • Sao Tana Tombu sebagai tempat tinggal Laki Laki Tau Sani.
  • Sao Pemo Roja sebagai tempat tinggal Laki Pama Nggo Lamba.

Pandangan Mistik Rumah Adat NTT

Berdasarkan berbagai macam rumah adat NTT, Jhon Mansford Prior memberikan gambaran pandangan mistiknya sesuai dengan realitas.

  1. Sepasang batu yang lebih tinggi melambangkan pria sebagai penghubung antara langit dengan bumi. Sedangkan yang lebih rendah melambangkan perempuan.
  2. Atap yang terbuat dari alang-alang dari atas ke bawah serta tanpa jendela menghubungkan tana dan liru serta membagi dunia luar dan dalam, terang dan gelap.
  3. Dua belas tiang dengan tinggi sekitar 1 meter. “Tiang-tiang ini berdiri pada tanah yang diratakan”.
  4. Ruangan untuk tinggal berada di atas tiang besar, Balok-balok kayu tidak bersambungan dengan tiang dasar atau dengan balok atap. Bagian bawahnya terdapat tempat untuk babi dan ayam.
  5. Ruangan langit ada di bawah loteng. Di atas ruangan ini terdapat dua tiang panjang tempat diletakkannya bubungan atas. Bubungan ini menjadi simbol sumber kehidupan yang mengalir dari generasi satu ke generasi selanjutnya.
  6. Tiga ruangan vertikal, terdiri atas ruangan bumi, ruangan langit, dan ruangan manusia. Ruangan-ruangan ini berdiri sendiri dan dibuat terbuka dengan makna mereka “sadar” ada yang lain.
  7. Tiga ruangan horizontal, yang terdiri atas tempat untuk istirahat (bale-bale), ruang tengah (maga-lo’o), dan one’ atau ruang paling belakang serta gelap.

Penutup

Demikian yang bisa sampaikan mengenai Macam-macam rumah adat yang ada di NTT.

Semoga bisa menambah pengentahuan kawan-kawan sekalian mengenai kebudayaan yang ada di negeri tercinta kita ini.

Terimakasih.

Malik fauzan Human happiness and human satisfaction must ultimately come from ourselves.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *