Senjata tradisional Kalimantan Tmur

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah – Kalimantan Tengah merupakan sebuah provinsi yang berada di pulau Kalimantan yang beribu kota di Palangkaraya.

Di daerah ini banyak sekali tempat menarik yang bisa kalian kunjungi. Salah satunya Museum Balanga yang berada Palangkaraya, atau lebih tepatnya di jalan Tjilik Riwut, jaraknya 2,5 km dari Bundaran Besar.

Bagi kalian yang menyukai sejarah pasti akan senang jika ke tempat ini. Karena di Museum Balanga ini kita akan mengenal benda-benda sejarah, seperti senjata tradisional Kalimantan Tengah yang dikenal unik diantaranya adalah, Sumpit, Duhung, dan Mandau.

Dan pada kesempatan kali saya akan mengulas mengenai 3 senjata tradisional asal Kalimantan Tengah tersebut, ikutin terus ok!

1. Senjata Tradisional Kalimanatan Tengah – Mandau

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah - Mandau
source: auction.catawiki.com

Mandau sendiri berasal dari bahasa Dayak Kalimantan yakni “Man” yaitu singkatan dari “kuman” yang bermakna “makan” dan dibentuk dari kata “do” yaitu singkatan dari kata “dohong” yakni pisau belati yang berasal dari Kalimantan Tengah. yang secara harafiah mempunyai arti “Makan Dohong“.

Maksudnya adalah karena sejak senjata mando menjadi populer di kalangan masayarakat Kalimantan Tengah, dohong yang merupakan senjata pisau terawal milik Dayak Ngaju kal-teng menjadi kalah populer atau tergerus kalah oleh mando.

Mandau atau mando adalah senjata khas dari kalimantan, lebih tepatnya sebagai senjata dari suku Dayak. Mandau merupakan senjata tajam mirip parang dengan ukuran panjang kira-kira 1/2 meter.

Mandau memang mirip seperti parang, tapi tentu saja dikeduanya memiliki perbedaan, Mandau memiliki ukiran-ukiran dibagian bilahnya yang tidak tajam.

Kerap juga di senjata ini ditambahi lubang-lubang yang di ditutup dengan kuningan atau tembaga yang bermaksud memperindah bilah mandau.

Mandau sendiri terdiri dari dua macam varian, yakni

  • Mandau tampilan biasanya, mandau versi tampilan digunakan untuk perang dan upacara.
  • Sedangkan mandau biasa, digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Ciri Khas Mandau

Ciri Khas Mandau Dayak
source: tokomandauborneo.wordpress.com

Mandau merupakan benda yang sangat disakralkan dan disucikan oleh masyarakat Dayak Kalimantan. Oleh karena itu setiap ada acara adat Dayak pasti dilengkapi dengan mandau, Pasalnya, bagi masyarakat Dayak, mandau mempunyai karakteristik yang bersumber dari harmonisasi alam dengan masyarakat Dayak. Dari situlah awal mula kekuatan mistik mandau muncul.

Masyarakat indonesia pada umumnya mengenal senjata ini dengan sebutan Mandau. Akan tetapi, bagi masyarakat Dayak sebutan untuk benda ini bisa bermacam-macam.

Ada lima kelompok suku Dayak dengan penyebutannya berbeda-beda.

  • Disebut Dongt bagi suku Dayak tanjung.
  • Ekeq bagi Dayak benuaq.
  • Edog/Baliuu bagi Dayak Bahau.
  • Loboq bagi Dayak tanjung dan Benoaq.

Adapun ciri mandau dapat dilihat dari tiga bagian pokok yakni:

  • Isin/Loneng 

Selalu dibuat dari logam campuran (besiq purunt) dan diolah dengan tempaan seorang pandai besi. Biasanya mandau dibuat dari biji besi dengan panjang ideal sekira 50 cm, lebar pangkal 2 cm dan lebar ujung sekira 5 cm dengan berat 335 gram.

Isin/loneng terdiri dari dua sisi utama, bagian punggung yang tumpul dan bagian bawah yang sangat tajam. Isin semakin ke ujung akan semakin lebar dan pada pangkalnya dipasangi Pulang (ukiran indah).

Permukaan Isin dihias mantaq yaitu lubang-lubang yang diisi dengan berbagai jenis logam, seperti kuningan, tembaga, emas dan perak. Mandau juga selalu dilengkapi dengan Langgei Puai atau isaau ( anak mandau).

  • Pulang/Hulu.

Pada umumnya pulang dibuat dari tanduk rusa atau tanduk kerbau, namun dijumpai juga yang terbuat dari jenis kayu pilihan. Ciri unik Pulang menyerupai bentuk paruh burung atau bentuk kepala naga.

Pada pangkalnya dihiasi ukiran motif Dayak sesuai dengan suku pemiliknya. Pada ujung pulang atau hulu mandau yang menyatu dengan pangkal mandau dihiasi cincin yang sibut kamang/sopak. Pulang juga dihiasi rambut manusia yang disebut takan.

  • sarukng

Berfungsi untuk melindungi bilah dan mempermudah untuk dibawa. Sarukng atau Kumpang terbuat dari bahan kayu, dihias dengan ukiran. Kumpang dihiasi dengan anyaman rotan yang disebut tempuser undang atau pusat belanak.

Selain itu, pada kumpang terikat pula semacam kantong yang tebuat dari kulit kayu atau pelepah pinang sebagai sarukng anak mandau.

2. Senjata Tradisional Kalimantan Tengah – Sumpit

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah - Mandau
source: beritasatu.com

Sumpit atau dalam bahasa Kalimantan Tengah disebut Sipet ini merupakan senjata tradisional yang dipergunakan dalam pertempuran, berburu, hingga sebagai senjata pembunuh secara diam-diam. Jika disepertikan yaitu seperti sniper tetapi versi tradisionalnya, hehe.

Cara menggunakan senjata ini yaitu dengan cara ditiup. Layaknya sniper, sumpit ini dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan memiliki akurasi tembak mencapai 200 meter.

Sumpit yang terdiri dari tabung bambu dan kayu yang panjangnya sekitar 1-3 m, dilengkapi dengan anak sumpit sebagai peluru yang berbentuk bulat dengan diameter kira-kira 1 cm.

Anak sumoit atau damek ini bisa terbuat dari bambu yang salah satunya berbentuk kerucut dan terbuat dari kayu yang massanya ringan (kayu pelawi) yang berfungsi agar anak sumpit dapat melesat dengan lurus juga sebagai penyeimbang saat lepas ditiupkan buluh.

Sedangkan ujung lainnya berbentuk runcing dan diberikan racun yang mematikan untuk berburu binatang buruan. Racunnya pun terbuat dari getah tumbuh-tumbuhan hutan yang hingga saat ini belum ada penawarnya. Serem juga ya senjata tradisional ini.

Karena cara kerjanya ditiup, untuk menentukan sejauh mana jarak anak sumpit itu melesat, ditentukan dengan seberapa kuat tidaknya nafas saat ditiupkan.

Mungkin kalau kita yang meniupnya (pemula) hanya akan melesat 1 meter saja. Mau mencoba senjata tradisional ini? Siapkan nafas yang kuat ya.

Awal Mula Sumpit

Sejarah Sumpit Suku Dayak
source: dinabas.com

Banyak masyarakat adat memiliki sumpit misalnya di suku Dayak Indonesia dan suku suku pribumi di Amerika Selatan.

Sumpit biasanya berbentuk tabung yang memungkinkan panah kecil yang ditembak melesat ke sasaran. Di Jepang, Sumpit disebut fukiya digunakan samurai digunakan sebagai senjata untuk mematikan musuh yang anak sumpitnya diracuni dengan racun dari ikan buntal.

Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit.

Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru. Yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun.

Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.

Proses Pembuatan Sumpit

Dalam proses pembuatan sumpit atau sipet dilakukan dengan dua cara,

  •  keterampilan tangan dari sang pembuat.
  •  Menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi.

Harga jual sumpit atau sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta.

Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu.

Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.

3. Senjata Tradisional Kalimantan Tengah – Duhung

Senjata Tradisional Kalimantan Tengah - Duhung
source: indonesiakaya.com

Duhung merupakan senjata tradisional suku Dayak konon senjata ini dipercaya merupakan senjata tertua Dayak. Pemilik awal senjata ini juga memang tidak sembarang orang, hanya raja-raja dan leluhur orang Dayak. Seperti Raja Sangiang, Raja Sangen, dan Raja Bunu.

Dalam perkembangannya, untuk saat ini duhung tidak lagi berfungsi dan dipergunakan sebagai senjata, tetapi dijadikan sebagai benda pusaka yang dipajang dan disimpan.

Mitos Senjata Duhung

Selama ini, mungkin masyarakat lebih mengenal mandau dan parang sebagai senjata tradisional yang dimiliki suku Dayak. Padahal, suku yang mendiami daerah pesisir Pulau Kalimantan ini memiliki satu lagi senjata tradisional, yaitu duhung.

Masyarakat Dayak meyakini duhung sudah tercipta ketika manusia belum ada di dunia. Duhung merupakan senjata yang diciptakan oleh leluhur suku Dayak di alam atas, kayangan.

Manusia pertama yang memiliki duhung adalah mereka yang dipercaya sebagai leluhur suku Dayak. Pada awalnya, hanya tiga orang yang memiliki duhung, yaitu Raja Sangen, Raja Sangiang, dan Raja Bunu.

Menurut legenda, ketiga raja tersebut memiliki duhung yang berbeda. Duhung milik Raja Sangen dan Raja Sangiang terbuat dari besi yang bisa mengapung.

Sementara, duhung milik Raja Bunu terbuat dari besi yang tidak bisa mengapung. Duhung jenis ini biasa disebut sanaman leteng. Raja Bunu inilah yang diyakini sebagai manusia yang bernyawa dan bisa mati, dan diyakini sebagai salah satu leluhur dan nenek moyang suku Dayak.

Senjata yang ukurannya berkisar 50-75 cm ini dahulu digunakan sebagai alat berburu atau bercocok tanam. Dalam perkembangannya, saat ini duhung tidak lagi berfungsi sebagai senjata melainkan benda pusaka yang dipajang atau disimpan.

Sekilas, duhung terlihat seperti tombak. Hanya saja, duhung tajam pada kedua belah sisinya. Masyarakat Dayak biasa menyelipkan duhung di bagian depan pinggang. Duhung jenis ini biasa disebut dengan duhung papan benteng.

Menurut para tetua Suku Dayak, pembuatan duhung harus selesai pada hitungan ganjil. Hal ini didasarkan kepercayaan bahwa segala hal akan diselesaikan atau digenapkan oleh Sang Maha Kuasa

Penutup

Nah, itulah senjata tradisional kalimantan tengah, yang menjadi sejarah Indonesia. Semoga menambah pengetahuan  bagi kalian dan semoga bermanfaat. Terimakasih telah berkunjung.

Referensi: https://otomodiv.com/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *