Upacara adat Aceh

Upacara Adat Aceh

Selain kaya akan ragam budaya, tradisi, ritual ataupun upacara adat, Aceh juga dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, karena mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam.

Sebutan suku Aceh sendiri ditunjukan kepada penduduk asli Aceh yang berada di wilayah Nangroe Aceh Darussalam, salah satu provinsi yang berada diujung Pulau Sumatera sebelah utara.

Jika dilihat dari unsur sejarah, suku Aceh memiliki asal usul sejarah yang sangat panjang. Rata-rata nenek moyang suku Aceh berasal dari berbagai luar Indonesia yakni Melayu, Semenanjung Malaysia, India, dan Arab.

Suku Aceh yang mayoritas masyarakatnya muslim memang memiliki beberapa macam upacara adat unik yang erat kaitannya dengan kegiatan agama Islam.

Berikut ini merupakan beberapa macam upacara adat Aceh yang masih lestari hingga sekarang.

1. Upacara Pernikahan Adat Aceh

Masyarakat Aceh dalam melangsungkan upacara perkawinan tidaklah dilakukan dengan sembarangan, melainkan  ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum prosesi pernikahan dilaksanakan, antara lain:

Upacara Ba Ranub Kong Haba

Upacara Jak Ba Ranub khas Aceh

Ba Ranub Kong Haba atau dikenal dengan upacara lamaran merupakan upacara adat yang dilaksanakan dengan tujuan peresmian sekaligus untuk mempertemukan kedua belah pihak keluarga.

Untuk waktu pelaksanaanya, calon pengantin pria dan wanita biasanya akan menetukan (hari khusus) atau juga bisa meminta masukan dari pihak orang tua/ sanak famili.

Saat hari H tiba, keluarga dari calon pengantin pria biasanya akan membawa sirih, penguat ikatan (Ranub Kong Haba), lengkap dengan alat-alatnya dalam cerana, pisang talon (pisang raja), serta membawa emas sesuai dengan ketentuan menurut adat.

Sementara di pihak keluarga mempelai wanita akan mengundang tetua kampung (Keuchik dan Teungku Sagoe), sanak kelurga terdekat, dan para tetangga.

Maksud dan tujuannya yaitu untuk menunggu kedatangan rombongan pihak pria dan sekaligus menjadi sakti atas pembicaraan kedua belah pihak.

Upacara Jak Ba Tanda

Upacara Jak Ba Tanda di Aceh

Jak Ba Tanda (tunangan) adalah kelanjutan dari upacara Ba Ranub Kong Haba dalam upacara ini biasanya pihak keluarga dari calon pengantin pria akan berkunjung lagi ke rumah calon pengantin wanita untuk membahas terkait pelaksanaan pernikahan.

Biasanya dari pihak keluarga pengantin pria akan membawa makanan khas Aceh serta seserahan seperti; beleukat kuneeng dengan tumphou, buah-buhan, seperangkat pakaian adat wanita, serta perhiasan.

Dalam acara ini ada beberapa hal yang dirundingkan oleh kedua belah pihak, antara lain:

  • Jeulamee (mas kawin), biasanya dari pihak keluarga wanita yang akan menentukan mas kawin. Jumlah mas kawin yang berlaku di daerah Kabupaten Aceh Barat yaitu berkisar antara 10-20 mayan emas.
  • Penentuan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan (Meugatib).
  • Dan hal lain yang yang berhubungan dengan upacara pernikahan tersebut, seperti; jumlah undangan dan jumlah rombongan dari pihak pengantin pria.

Meugatip

Upacara adat Aceh Meugatip

Setelah upacara Jak Ba Tanda selesai dan membuahkan hasil, maka barulah prosesi Meugatip akan dilaksanakan.

Meugatif adalah prosesi penjemputan dari calon pengantin pria ke pihak calon mempelai wanita  untuk melakukan prosesi pernikahan secara agama.

Meukerija/ Wo Linto

Prosesi Meukerija di Aceh

Setelah proses Meugatip, kemudian dilanjutkan dengan Meukerija (Wo Linto), yaitu penyambutan linto baro dari pihak mempelai pria yang dilakukan beberapa hari setelah upacara pernikahan dilaksanakan.

Peudab Jambo

Peudab Jambo dalam prosesi pernikaha Aceh

Peudab Jambo atau dalam bahasa Jawa disebut dengan pasang tarub merupakan tradisi mendekorasi tempat untuk “pesta” yang biasanya dilakukan selama tujuh hari sebelum hari H (dikerjakan oleh kaum pria).

Pesta Pelaminan

Pesta pernikahan adat Aceh

Sebelum pesta pelaminan berlangsung, biasanya kedua calon pengantin akan melakukan upacara Meugaca atau Boh Gaca (memakai inai) selama 3-7 malam berturut-turut.

Adat ini kuat dipengaruhi oleh budaya India dan Arab. Namun sekarang adat ini telah bergeser menjadi pengantin perempuan saja yang menggunakan inai.

Setelah semua prosesi selesai barulah dilaksanakan Ijab Qabul yang biasanya dilakukan di Mesjid atau di rumah tradisional Aceh yang telah dipasang beberapa hiasan.

Dalam rumah adat biasanya sudah terpasangkan kain-kain bersulam emas (dalam bahasa Aceh disebut tiree) yang digantungkan di seluruh dinding.

Sementara untuk bangku pelaminan terbuat dari sebuah kasur, lengkap dengan guling dan batal yang diberi sarung bersulam emas.

Intinya bisa kita simpulkan bahwa dalam perkawinan adat Aceh, pelaminan sebagai tempat duduk, terdiri dari:

  • Tabeng (tirai).
  • Ayue-ayue, ditempatkan di atas atau depan pelaminan.
  • Cawiek Keleumbu, hiasan berupa binatang-binatang yang digantungkan untuk hiasan pelaminan.
  • Kasho Duk Tilam persegi, digunakan untuk duduk.
  • Bantai Sadeu, berupa bantal persegi untuk sandaran dan bantal meutumpok di kanan dan kiri.
  • Sulaman khas Aceh untuk keindahan.

2. Upacara Peutron Aneuk

Tradisi adat Aceh untuk sambut kelahiran bayi

Upacara Peutron Aneuk merupakan tradisi masyarakat Aceh untuk menyambut kelahiran anak bayi yang baru lahir ke dunia.

Untuk waktu pelaksanaanya ada beberapa perbedaan pendapat yaitu:

  • Ada warga yang melaksanakan upacara ini pada hari ke-7 setelah kelahiran si bayi.
  • Dan ada juga yang melaksanakan upacara ini pada hari ke-44 setelah kelahiran, bahkan ada pula yang melangsungkannya setelah bayi berumur lebih dari satu tahun.

Adapun beberapa bahan yang harus disiapkan sebelum digelarnya upacara adat Peutron Aneuk, antara lain:

  • Kelapa Tua

Kelapa tua digunakan ketika si bayi diturunkan atau diinjakkan ke tanah yang kemudian kelapa tersebut akan dibelah dan airnya disiramkan ke kepala si bayi.

  • Kelapa Muda

Kelapa muda digunakan untuk membasuh rambut si bayi setelah dicukur. Kemudian setelah digunakan kelapa tersebut akan disimpan diatas sumur selama sebulan.

  • Alat Peusijuk

Alat Peusijuk digunakan untuk ‘menepung tawari’ si bayi. Bahan yang digunakan untuk peusijuk terdiri dari; oen seunejuk, neleung sumboe, manek mano, tepong bit, padi yang dicampur beras, ketan kuning dan air.

Prosesi Peusijuk dilaksanakan sebelum cuko ok/ pemotongan rambut yang dilakukan oleh Syekh Marhaban.

  • Buah-buahan

Buah-buahan digunakan untuk mengecapkan (peucicap) pada lidah si bayi, buah yang digunakan ada 3,5 sampai 7 buah, diantaranya; buah apel, salak, semangka, anggur, dan lain-lain.

Setelah bahan untuk melakkan proses Peutron Aneuk terkumpul, barulah upacara adat ini dilakukan. Prosesi pelaksanaan dimulai dari para anggota marhaban membacakan Marhaban Al-Barzanji.

Ketika marhaban berlangsung, si bayi akan diletakkan ditengah-tengah angggota marhaban. Dalam bacaan marhaban ada beberapa hal yang dilakukan dan dibaca, antara lain:

  • Membaca istigfar sebanyak 3 kali.
  • Shalawat nabi.
  • Asmaul husna.
  • Marhaban al-barzanji.
  • Kalimat tahlil.

Ketika pembacaan Barzanji, si bayi akan di Peisijuk dan di Peucicap oleh Syekh Marhaban, kemudian diberi sedekah oleh beberapa orang yang hadir dalam prosesi Peutron Aneuk.

Kemudian Syekh Marhaban akan menggendong si bayi untuk mengelilingi para anggota marhaban yang diikuti oleh ibu si bayi (Peulingka Ka’bah).

Lalu si bayi akan dibawa keluar rumah untuk memulai ritual utama yaitu; menginjakkan kaki si bayi ke tanah.

Setelah ritual tersebut selesai si bayi akan akan diletakkan kembali ke dalam ayun diantara anggota marhaban dengan membaca kalimat tahlil.

3. Upacara Troen U Balang

Upacara Hajat Kenduri adat Aceh

Upacara adat Troen U Balang adalah upacara hajat kenduri yang dilakukan oleh masyarakat Aceh saat musim tanam padi tiba.

Upacara adat ini dilakukan dengan tujuan agar tanaman padi dapat panen dan menghasilkan padi yang berlimpah sehingga dapat menambah pengahasilan ekonomi penduduk.

Makna lain dari pelaksanaan tradisi ini yaitu sebagai pertanda bahwa tanah/ lahan pertanian telah siap menerima benih baru dan masa tanam dapat segera dilakukan.

Ketika upacara adat ini biasanya para petani akan dengan serentak menggarap sawah. Mulai dari masa semai benih, masa tanam, masa panen, waktu mengeluarkan zakat, hingga menikmati hasilnya pun secara serentak.

4. Upacara Meugang

Upacara Meugang masyarakat Aceh

Upacara Meugang merupakan tradisi yang paling menarik yang ada di Aceh, karena pada acara ini semua warga akan memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat, dan anak yatim.

Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi yang dilaksanakan setahun tiga kali, yaitu; Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Bagi mereka penyuka daging sapi atau kambing, inilah momen yang tepat untuk memenuhi hasrat, karena pada saat Meugang rumah warga akan diselimuti aroma masakan yang menggugah selera.

5. Upacara Tulak Bala

Upacara pelaksaan Tulak Bala di Aceh

Upacara Tolak Bala merupakan kegiatan rutinan masyarakat Aceh yang dilakukan setiap setahun sekali tepatnya pada bulan Shafar.

Menurut sebagian masyarakat Aceh bulan Shafar identik dengan cuaca pancaroba atau suasana yang tidak menentu serta beraura kurang baik terhadap kebugaran fisik maupun psikis.

Tradisi ini sering dilaksanakan oleh masyarakat Aceh bagian Barat-Selatan khususnya masyarakat Aceh Barat Daya.

Di Aceh prosesi Tolak Bala dilakukan dengan cara berdoa bersama-sama pada ma;am hari di meunasah, dayah, dan mesjid.

Sementara pada siang hari seluruh masyarakat akan pergi ke sungai, pantai atau pemandian lainnya dengan membawa bekal makanan.

Setelah masyarakat berkumpul ditempat yang sudah ditentukan, barulah tradisi Tolak Bala dilakukan dengan dipimpin oleh Teungku Imum Cik membaca beberapa surah Al-Quran.

Surah yang dibaca bisanya Al-Baqarah (sapi betina), Al-Kahf (gua) dan Ya Sin (dua surat pertama tidak dibaca seluruh ayat, hanya sekitar 3-4 halaman saja.

Setelah selesai membaca surah Ya Sin, dilanjut dengan pembacaan tahlil. Namun, sebelum tahlil ada sesaji khusus yang harus dihanyutkan ke sungai dengan menggunakan rakit batang pisang yang dihias menggunakan janur.

Sesaji tersebut berupa kepala kerbau yang dipotong ditempat upacara, ayam warna putih, nasi putih dan kuning, gulai ayam, jeroan ayam, dsb.

Kemudian sesaji yang dihanyutkan tersebut akan dibacakan doa (Tolak Bala) yang dipimpin oleh seorang Teungku atau pemangku adat setempat.

Pada akhir Tulak Bala biasanya akan dilakukan doa bersama, yang dilanjutkan dengan acara kenduri berupa makan.

Setelah itu masyarakat Aceh akan melakukan ritual mandi kembang dan wangi-wangian dari bunga yang terdapat disekitar mereka (sebagai penutup acara).

6. Upacara Peusijuk

Budaya peusijuk di Aceh

Secara harfiah, kata Peusijuk diambil dari kata sijue yang berarti “dingin” sehingga dapat diartikan mendinginkan, menyegarkan,dan menyejukan.

Upacara adat Aceh Peusijuk merupakan tradisi masyarakat zaman dulu yang masih dilestarikan dan dilaksanakan hingga sekarang.

Tradisi ini biasanya kerap dilakukan masyarakat Aceh hampir disetiap ketika ada kegiatan, misalnya pernikahan adat, perayaan adat, syukuran, dan upacara adat yang lainnya.

Tradisi ini juga berlaku untuk siapa saja, bisa anak yang mau melaksanakan sunnah Rosul, warga yang mau pergi haji, ataupun mereka yang hendak menempati rumah baru.

Harapan dari semua kegiatan ini yaitu agar terwujudnya hidup bahagia dan tentram.

Terdapat beberapa macam upacara adat Peusijuk yang dilaksanakan masyarakat Aceh, diantaranya:

  • Peusijuk Pade Bijeh.
  • Peusijuk Meulangga.
  • Peusijuk Tempat Tinggay.
  • Peusijuk Keurubeuen.
  • Peusijuk Kendaraan.
  • Peusijuk Peundong Rumoh.
  • Peusijuk Naik Haji, Sunnah Rasul Perkawinan.

Adapun makna dari dilakukannya upacara Peusijuk adalah:

  • Clok (calok) mengandung makna, semoga orang yang di peusijuk tetap berada di dalam lingkungan keluarga.
  • Tudung saji (sangee) mengandung makna, agar mendapatkan perlindungan dari Allah swt dari segala tipu daya.
  • Talam mengandung makna, tetap bersama dalam lingkungan keluarga yang di tinggalkan.
  • Tepung tawar menyimbolkan kebersihan dan kesejukan.
  • Beras padi makanan pokok atau benih yang menghasilkan.
  • Naleung samboe sifatnya yang kokoh dan sulit untuk dicabut.
  • On manek-mano mempunyai makna persatuan dan kesatuan.
  • On sijuek, obat penawar/ kesejukan meresap kalbu.
  • Bu leukat sebagai pelambang daya tarik untuk meresap kedalam hati orang yang di Peusijuk.

7. Upacara Samadiyah

Upacara Samadiyah di Aceh

Samadiyah merupakan upacara adat Aceh yang dilakukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

Untuk waktu pelaksanaan, biasanya dilakukan selama tujuh malam berturut-turut setelah wafatnya almarhum/ ah.

Samadiyah hari pertama biasanya dilaksanakan di Meusanah (masjid/ mushala/ surau), dilakukan setelah  shalat magrib berjamah. Kemudian Samadiyah malam ketiga dan seterusnya dilangsungkan dirumah duka.

Para tamu yang hadir biasanya akan membawakan buah tangan untuk pihak keluarga yang sedang berduka.

Sebelum berdoa, para tamu juga akan disuguhi makan malam bersama. Berbeda pada hari sebelum-sebelumnya di Samadiyah hari ketujuh biasanya lebih ramai, karena para kerabat, tetangga akan datang ke rumah duka membawa beras, gula, kopi, dll lalu melakukan berdoa bersama.

8. Upacara Troen U Laoet

Pelaksaan upacara Troen U Laoet di laut Aceh

Troen U Laoet merupakan upacara adat Aceh semacam hajat kenduri yang dilakukan ketika musim melaut tiba.

Tujuan dilaksanakan tradisi ini yaitu sebagai rasa syukur dan berharap agar hasil tangkapan ikan di laut melimpah.

Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh warga yang berprofesi sebagai nelayan dengan mengundang tetangga terdekatnya untuk hadir. Tapi tidak jarang juga kegiatan ini dilakukan bersama dengan nelayan lain.

2 komentar untuk “Upacara Adat Aceh”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *