Upacara adat Bali

Upacara Adat Bali

Membicarakan pulau Bali memang tidak ada habisnya, bukan? Ya, tepat sekali karena selain terkenal dengan keindahan wisata dan pemandangan alam yang menakjubkan.

Bali atau dikenal dengan nama Pulau Dewata juga kaya akan beragam budaya dan istiadatnya.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang melakukan ritual upacara, baik itu dalam kehidupan sehari-hari ataupun pada hari-hari penting saja.

Dan uniknya, upacara adat di Bali dilakukan secara terbuka sehingga baik masyarakat dalam negeri maupun luar negeri bisa langsung melihat dan turut ikut dalam upacara tersebut.

Macam-macam Upacara Adat Bali

Secara umum Bali memiliki upacara adat yang digelar dan dilaksanakan oleh hampir masyarakat Bali terutama bagi masyarakat yang beragama Hindu.

Walaupun dalam pelaksanaannya tetap mengacu pada tempat (desa) upacara tersebut berlangsung, misalnya jika ada orang yang ekonominya kurang mampu.

Upacara akan tetap dilakukan hanya saja tingkatannya lebih kecil, tapi tidak mempengaruhi dari makna upacara adat tersebut. Dengan kata lain tata cara upacara adat di Bali ini bersifat fleksibel.

Berikut ini adalah macam-macam upacara adat Bali yang biasa dilakukan oleh masyarakat terutama oleh warga Hindu, Bali.

1. Upacara Adat Ngaben

Makna upacara adat Ngaben Bali

Ngaben merupakan upacara adat masyarakat Hindu Bali yang dilaksanakan untuk orang yang meninggal, ketika ada orang yang meninggal “tubuhnya akan dibakar dan abunya akan dihanyutkan ke laut”.

Berdasarkan prosesi pelaksanaanya, upacara Ngaben terbagi menjadi beberapa macam yaitu:

  • Ngaben Sawa Wadana merupakan upacara adat yang dilakukan setelah jenazah diawetkan sebelum waktu ritual pembakaran berlangsung dan dilakukan dalam kurun waktu 3-7 hari.
  • Ngaben Asti Wedana merupakan upacara adat yang dilakukan setelah jenazah dikuburkan terlebih dahulu selama beberapa hari.
  • Upacara Swasta dilakukan bagi masyarakat Bali yang meninggal di luar daerah atau jasadnya tidak ditemukan.

Tentu saja untuk melalukan upacara adat ini perlu biaya yang sangat besar yaitu sekitar 150-200 juta rupiah, sehingga tidak jarang penduduk Bali yang bisa melaksanakan upacara ini untuk keluarga yang meninggal.

Upacara Ngaben memiliki  3 tujuan utama yaitu:

  • Bentuk pelepasan roh atau Sang Atma dari duniawi.
  • Mempermudah roh untuk bersatu dan bersama dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).
  • Mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta dan mengantarkannya ke sang Atma yakni Alam Pitara.

Panca Maha Bhuta sendiri memiliki arti 5 unsur utama yang membagun badan kasar manusia, diantaranya:

  • Unsur padat seperti; daging, tulang, kuku dan apah.
  • Unsur cair yaitu; bayu.
  • Unsur panas yaitu; akasa.
  • Unsur udara yaitu; teja.

Tujuan yang terakhir dari pelaksanaan diadakannya Ngaben adalah sebagai simbolisasi  bahwa pihak keluarga yang di tinggalkan telah ikhlas dengan kepergian jenazah.

Tahapan Upacara Ngaben

Secara umum rangkaian pelaksanaan dalam ritual upacara Ngaben dibagi menjadi beberapa tahap, antara lain:

  • Ngulapin: Upacara untuk memanggil kembali roh seseorang yang sudah meninggal.
  • Nyiramin: Upacara memandikan dan membersihkan jenazah.
  • Ngajum Kajang: Upacara yang ditunjukan sebagai kemantapan dari pihak keluarga terhadap yang meninggal untuk melanjutkan perjalanan ke alam selanjutnya.
  • Ngaskara: Upacara penyucian roh. Penyucian ini dilakukan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu kembali dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
  • Mameras: Upacara yang dilakukan apabila mendiang telah memiliki cucu, karena menurut keyakinan mereka cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik.
  • Papegatan: Upacara yang memutuskan hubungan duniawi yang akan menghalangi perjalanan roh.
  • Pakiriman Ngutang: Upacara mengusung jenazah dan semua perlengkapan upacara menuju kuburan.
  • Ngeseng: Upacara pembakaran jenazah.
  • Ngayud: Prosesi menghanyutkan abu jenazah ke laut/ sungai.
  • Makelud: Upacara untuk membersihkan serta menyucikan kembali lingkungan keluarga dari kesedihan setelah ditinggalkan.

Keunikan Upacara Ngaben

Keunikan dari upacara adat Ngaben terletak pada peralatan yang digunakan selama prosesi, yaitu; jenazah akan dibakar dalam sebuah patung.

Patung yang digunakan biasanya berbentuk lembu atau sering disebut Lembu Ngaben.

Keunikan lainnya dari upacara adat ini yaitu prosesi upacara membutuhkan waktu panjang serta biaya yang ekstra besar.

Pelajari juga: Upacara Adat Aceh

2. Upacara Adat Nyepi

Upacara adat Bali Hari Raya Nyepi

Upacara Nyepi merupakan jenis upacara adat yang dilakukan untuk merayakan tahun baru Bali yang berdasarkan tahun Isaka (Saka) yang umumnya jatuh pada bulan Maret-April tahun Masehi.

Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan.

Tujuan utama dilakukannya upacara Nyepi yaitu untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Kebiasaaan pada Hari Raya Nyepi ini tergolong unik karena pada saat Hari Raya Nyepi tiba, tidak boleh ada satu aktivitas pun yang dilakukan, tidak buat gaduh, bepergian, dan menyalakan lampu.

Terkecuali tempat-tempat penting yang boleh dikunjungi oleh warga pada saat Hari Raya Nyepi seperti; rumah sakit.

Makna Nyepi bagi umat Hindu Bali yaitu agar dapat mengendalikan hawa nafsu menahan dan mengendalikan segala keinginan.

Tidak sedikit masyarakat Bali yang memanfaat Hari Raya Nyepi sebagai waktu paling tepat untuk melakukan tapa, yoga, brata, dan semedi, sehingga bisa membuka lembaran baru dengan hati yang putih dan bersih.

3. Upacara Adat Melasti

Upacara adat Melasti di Bali

Melasti (mekiis/ melis) merupakan upacara adat Bali dan termasuk kedalam rangkaian Hari Raya Nyepi. Upacara ini umumnya dilakukan 2-4 hari sebelum tiba hari H (Nyepi).

Biasanya masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu akan mendatangi beberapa sumber air yang dikeramatkan seperti; danau, mata air, hingga laut yang konon menyimpan mata air keabadian atau Amerta.

Pada saat upacara ini berlangsung pemangku Hindu akan memercikan air suci ke kepala setiap orang.

Tujuannya untuk membersihkan semua kotoran dan hal buruk di dalam tubuh agar jiwa dan raga kembali suci.

4. Upacara Omed-omedan

Upacara omed-omedan di Bali

Tradisi yang tidak kalah unik berikutnya upacara Omed-omedan yang seringkali diadakan di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali.

Upacara adat ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi, dan biasanya dimulai sekitar pukul 14:00 selama 2 jam.

Keunikan dari tradisi Omed-omedan yaitu upacara ini hanya berlaku untuk para pemuda-pemudi yang belum menikah di usia 18-30 tahun.

Biasanya pada upacara ini para pemuda-pemudi akan bersembahyang massal di pura, lalu 2 kelompok pria dan wanita yang belum menikah akan dihadapkan dan ditabrakan kemudian disiram oleh air dan berakhir dengan saling berciuman.

Tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun silam dan sudah menjadi satu kebudayaan yang tidak bisa dihilangkan.

5. Upacara Adat Ngerupuk dan Ogoh-ogoh

Pelaksaan upacara adat Ngerupuk dan Ogoh-ogoh

Upacara Ngerupuk merupakan upacara adat yang dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala kejahatan yang dilakukan pada sore hari (sandhyakala).

Upacara adat ini masih termasuk kedalam rangkaian acara Hari Raya Nyepi, dan dilaksanakan satu hari sebelum Hari Raya Nyepi tiba.

Setiap masyarakat Hindu di Bali wajib melakukan persembahan kepada sang Bhuta Kala dengan banten meracu, baik di tingkat rumah, desa, kecamatan, hingga provinsi Bali yang umumnya dilakukan di perempatan jalan raya utama di kota tersebut.

Ritual ini biasanya dimulai dengan mengobori rumah, dennen nasi tawur,menyemburi rumah, dan pekarangan dengan mesiu hingga memukul-mukul benda yang menimbulkan suara gaduh.

Tujuannya adalah agar mereka (Bhuta Kala) tidak mengganggu kehidupan manusia disaat sedang melakukan brata penyepian.

Setelah semua acara selesai di meriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh yang di arak keliling desa dibarengi dengan warga yang membawa obor.

6. Upacara Adat Galungan

Upacara adat Galungan bagi masyarakat Hindu Bali

Upacara Galungan merupakan upacara adat yang bertujuan untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

Kata Galungan sendiri berasal bahasa Jawa Kuno yang berarti “Menang”. Selain menjadi peringatan hari kemenangan, Galungan juga bertujuan untuk memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya.

Biasanya upacara Galungan dilakukan setiap 6 bulan sekali atau dalam perhitungan kalender Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dunggulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) dan perayaan ini dilakukan selama 10 hari berturut-turut.

Pada saat inilah umat hindu diharapkan bisa membedakan antara yang baik dan dan yang buruk, sehingga kebahagiaan bisa diraih dengan kemampuan memenangkan Dharma dalam diri masing-masing.

Ciri khas dari upacara adat Galungan adalah adanya Penjor yang terpasang di sepanjang jalan. Kemudian 10 hari setelah dilakukannya upacara Galungan dilanjutkan dengan Hari Raya Kuningan.

7. Upacara Adat Tumpek Landep

Upacara Bali Pelaksanaan Tumpek Landep

Tumpek Landep merupakan upacara adat  Bali yang dilakukan setiap 6 bulan sekali atau dalam kalender Bali setiap 210 hari, tepatnya jatuh pada hari Rabu (Budha) Kliwon wuku Dungulan.

Kata Tumpek sendiri berasal dari kata “Metu” yang bermakna bertemu dan “Mpek” artinya akhir.

Jadi bisa diartikan bahwa Tumpek adalah pertemuan Wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, yang dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta diakhiri oleh Saniscara (hari sabtu).

Sedangkan kata Landep artinya tajam/ runcing, maksudnya upacara ini dilakukan untuk beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti; keris.

Pada perayaan ini umat Hindu memuja Sang Hyang Pasupati yang telah memberikan anugerah kecerdasan bagi manusia, sekaligus sebagai tanda wujud terima kasih kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.

8. Upacara Adat Otonan

Upacara adat Otonan di Bali

Upacara Otonan merupakan upacara adat yang dilakukan untuk merayakan kelahiran seseorang anak (ulang tahun Bali).

Upacara adat ini digelar ketika usia bayi telah menginjak 6 bulan (210 hari) hingga di setiap 6 bulan berikutnya upacara adat Otonan akan dilakukan (namun, dengan upacara yang kebih kecil).

Di Bali hari lahir sangat berpengararuh pada watak seseorang, jika wataknya kurang baik, biasanya masyarakat Bali melakukan upacara lagi dengan harapan bisa mengubah perilaku.

9. Upacara Adat Mepandes

Upacara adat Mepandes di Bali

Mepandes (Mesuguh) atau dikenal juga dengan tradisi potong gigi (Metatah) merupakan salah satu upacara unik yang dimiliki masyarakat Hindu Bali.

Tujuan dilakukannya upacara Metatah adalah menghilangkan 6 musuh (sad ripu) yang terdapat dalam diri manusia, yaitu:

  • Kama yaitu sifat yang penuh nafsu indriya.
  • Mada yaitu sifat kegila-gilaan (mabuk).
  • Lobha yaitu serakah.
  • Matsurya yaitu iri hati dan dengki.
  • Moha yaitu angkuh bingung.
  • Krodha yaitu pemarah dan kejam.

Biasanya upacara adat ini dilakukan ketika anak mulai memasuki masa remaja. Adapun ciri-ciri bagi pria ataupun wanita yang siap melakukan tradisi Metatah, antara lain:

  • Pria biasanya dilakukan setelah mengalami perubahan suara.
  • Sedangkan pada wanita  dilakukan setelah mendapatkan mentruasi yang pertama.

Untuk prosesi Metatah biasanya dilakukan oleh seorang Sangging, yang dipotong adalah 6 buah gigi taring bagian atas.

Baca juga skuy:) Rumah Adat Riau

10. Upacara Adat Tumpek Uduh

Upacara Tumpek Uduh di Bali

Tradisi Tumpek Uduh atau disebut dengan Tumpek Wariga/ Tumpek Ngatag merupakan upacara yang masih termasuk kedalam rangkaian Hari Raya Galungan.

Upacara adat ini dilaksanakan setiap 25 hari sebelum dilaksakannya Hari Raya Galungan tepatnya hari Sabtu Kliwon, wuku Wariga.

Tumpek Unduh sendiri adalah bentuk persembahan kepada Tuhan (Dewa Sangakara) sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan atas manifestasi yang telah diberikan kepada manusia.

Sekaligus sebagai tanda rasa syukur atas segala limpahan makanan yang berasal dari tumbuhan tersebut dan diharapkan agar semua manusia tetap bisa menjaga keharmonisan dengan alam terutama dengan tumbuhan.

Agar tercipta keseimbangan dan hubungan baik dengan alam salah satunya dari bentuk pelaksanaan Tri Hita Karana.

Bukan hanya tumbuh-tumbuhan, bahkan barang-barang mati yang terbuat dari logam seperti; keris, senjata, perabotan yang terbuat dari besi, sepeda motor hingga mobil juga di upacarai agar berkah dan berguna bagi manusia.

11. Upacara Adat Saraswati

Upacara adat Bali

Upacara Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa atas manifestasinya menciptakan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Kesucian.

Hari raya Saraswati dilaksanakan setiap 6 bulan sekali (210 hari) tepatnya pada hari Sabtu Umanis wuku Watagunung dan dilakukan dengan prosesi pembacaan dan renungan isi ajaran pustaka.

Kekuatan Sang Hyang Widi Wasa dalam perwujudannya dilambangkan dengan seorang Dewi (Saraswati) yang membawa semua peralatannya seperti; alat musik, genitri, pustaka suci, teratai, serta duduk diatas angsa.

Dalam pelaksanaan upacara adat Saraswati juga diseligi hiburan seperti; pentas seni tari, pembacaan sastra, hingga malam sastra selama semalam suntuk.

12. Upacara Adat Ngurek

Upacara adat Bali Ngurek

Upacara Ngurek atau disebut Ngunying merupakan tradisi masyarakat Hindu Bali yang cukup ekstrim, karena dalam tradisi ini melibatkan tubuh sendiri yang ditusuk menggunakan keris.

Dalam beberapa ritual keagamaan Hindu upacara adat Ngurek merupakan hal wajib yang harus dilakukan, lantaran menjadi simbol wujud bakti seseorang yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh para pemangku (tokoh keagamaan Hindu) namun ‘kini’ siapa saja dapat melakukannya tanpa membedakan status keagamaannya.

Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan partisipan agar bisa mencapai klimaks kerasukan, yaitu:

  • Nusdus yaitu merangsang para pelaku dengan asap yang berorama harum.
  • Masolah yaitu tahap menari yang diiringi dengan lagu-lagu dan koor kecak/ bunyi gamelan.
  • Ngaluwur yaitu mengembalikan pelaku Ngurek pada jati dirinya.

Masuknya roh kedalam tubuh partisipan ditandai dengam beberapa konidisi, seperti; badan menggigil, gemetar, mengerang, dan memekik.

Dengan diiringan suara gamelan, para peserta yang sudah kerasukan akan menancapkan keris ke tubuh bagian atas, seperti; dada, bahu, leher, alis, hingga mata.

Meskipun senjata keris tersebut di tancapkan dan ditekan dengan kuat secara berulang-ulang, tidak akan menimbulkan luka/ goresan sedikitpun.

Hal ini karena roh yang berada dalam diri peserta Ngurek telah menjaga tubuh mereka, agar kebal dan tidak mempan terhadap benda-benda tajam.

13. Tradisi Mesuryak Bali

Tradisi mesuryak di Bali

Tradisi Mesuryak merupakan salah satu budaya leluhur yang hanya dapat dijumpai di Desa Bongan, Kabupaten Tabanan.

Secara harfiah, Mesuryak berasal dari dari kata Suryak yang berarti “berteriak” atau “bersorak”.

Menurut kepercayaan umat Hindu, para roh leluhur turun ke dunia pada Hari Raya Galungan dan kembali ke Nirwana pada Hari Raya Galungan.

Sementara kegiatan Mesuryak dilaksanakan dengan maksud sebagai tanda penghormatan serta mengantar roh para leluhur kembali ke Nirwana dengan rasa suka cita.

Dalam pelaksanaanya upacara adat Mesuryak dimulai pada pukul 9 pagi dan berakhir pada jam 12 siang.

Tradisi adat digelar setiap 6 bulan sekali (210 hari) yaitu pada Hari Raya Kuningan yang bertepatan pada 10 hari setelah dilaksanakannya Hari Raya Galungan.

Dalam  pelaksanaan tradisi ini biasanya semua warga akan sembahynag di pura keluarga atau Pura Kahyangan Tiga yang terletak di desa setempat.

Kemudian para roh leluhur yang akan dilepas kepergiannya akan dibekali dengan banten pangadegan atau sesaji yang ditaruh di depan gerbang rumah.

Sesajian tersebut dapat berupa berasa, telur, pis bolongm dan perlengkapan lainnya sebagai bekal leluhur.

Ketika semua persiapan telah selesai, barulah tradisi Mesuryak dapat dilaksanakan. Sebelum prosesinya dimulai, masing-masing anggota keluarga memberi bekal kepada roh para leluhur sesuai dengan kemampuannya, berupa uang logam, hingga uang kertas dalam pecahan rupiah.

Uang-uang tersebut biasanya akan dilempar ke udara untuk diperebutkan oleh warga. Meskipun terjadi desak-desakan dan sampai terjatuh, seluruh warga melalukannya dengan rasa suka cita tanpa ada kericuhan.

14. Upacara Adat Piodalan

Pelaksanaan upacara Piodalan Bali

Piodalan atau dikenal juga dengan Pujawali, Petoyan/ Petirtaan merupakan salah satu Hari Raya Besar dalam keagamaan Hindu.

Upacara adat ini termasuk kedalam rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditunjukan kepada Ida Sang Hyang Widhi untuk sebuah pura atau tempat suci.

Secara harfiah, kata Piodalan berasal dari kata Wedal yang berarti “keluar” atau “lahir”, jadi bisa diartikan bahwa Piodalan adalah upacara untuk merayakan ulang tahun sebuah pura/ tempat suci.

Oleh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah jika di Bali ada hari yang ditetapkan sebagai hari suci perayaan Piodalan/ Pujawali.

Hari Odalan sendiri dirayakan berdasarkan pada perhitungan sasih yang merujuk pada kalender Saka yang jatuhnya setahun sekali.

Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pelaksanaan Hari Raya Odalan mengacu pada perhitungan wuku yang jatuhnya setiap 6 sekali (210 hari).

Dalam pelaksanaannya, upacara adat Piodalan dapat digelar dalam skala besar maupun kecil tergantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Selain itu, pelaksanaannya juga dibagi menjadi beberapa tingkatan, antara lain:

  • Odalan tingkat nista.
  • Odalan tingkat madya.
  • Odalan tingkat utama.

Akan tetapi terlepas dari semua tingkatan ini upacara tetaplah upacara memiliki arti dan tujuan yang sama.

15. Tradisi Mepantigan

Tradisi Mepantigan Bali

Tradisi Mepantigan merupakan atraksi seni bela diri tradisional Bali yang masih bertahan hingga sekarang.

Tradisi unik ini seringkali diadakan di Desa Ubud, dan Batubalan yang terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Nama Mepantigan sendiri memiliki makna “saling membanting” yang mana kegiatan ini diperlukan kelihaian serta power untuk bisa membanting lawan.

Atraksi seni bela diri ini bisa dilaksanakan dimana saja, yang penting arealnya harus berlumpur sehingga lawan yang dibanting tidak luka/ cedera parah.

16. Tradisi Mekotek

Upacara adat Bali

Mekotek atau dikenal dengan Grebeg Mekotek merupakan tradisi unik khas Bali yang digelar setiap 6 bulan sekali tepatnya pada perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan).

Tradisi ini dapat dijumpai di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk menolak bala/ melindungi diri dari serangna penyakit dan untuk memohon keselamatan.

Pada awalnya, dalam prosesi pelaksaan Mekotek menggunakan tongkat yang terbuat dari besi.

Namun, untuk menghindari agar partisipan tidak terluka digunakanlah kayu pulet sepanjang 2-3,5 meter.

Tongkat tersebut nantinya akan dipadukan menjadi satu membentuk formasi sebuah kerucut, serta menghasilkan suara “tek, tek” sehingga dikenal dengan nama Mekotek.

17. Tradisi Mekare-kare

Mekare-kare Bali "perang daun pandan"

Mekare-kare atau dikenal dengan nama “perang daun pandan” merupakan tradisi yang berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali

Tradisi ini adalah ajang untuk menunjukkan kehebatan, yang pria yang di desa akan melakukan perang dengan menggunakan daun pandan.

Biasanya para peserta akan diberikan satu helai daun pandan dan satu perisai sebagai pelindung. Daun pandan yang digunakan pun bukan daun pandan seperti biasa, melainkan daun pandan yang berduri tajam.

Tujuan diadakanya tradisi ini adalah sebagai penghormatan kepada Dewa Indra, yang merupakan Dewa dalam kepercayaan Hindu.

Setelah peperangan selesai, para peserta akan dirawat dan didoakan oleh orang yang dituakan agar mereka tidak merasakan sakit.

Nah, bagi kamu yang ingin menyaksikan keunikan dari upacara adat yang satu ini bisa datang ke Bali pada bulan Juni. Karena tradisi ini dilakukan setiap tahun tepatnya pada awal bulan Juni.

Itulah beberapa macam upacara adat Bali yang unik dan penuh makna, sebenarnya masih banyak sekali upacara dan tradisi Bali yang belum tersampaikan dalam pembahasan ini, hal tersebut disebabkan karena keterbatasan penulis 😀

Namun dengan ini, setidaknya bisa menambah wawasan kita sekaligus meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama khususnya di Indonesia.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *