BerandaKulturUpacara Adat Minangkabau

Upacara Adat Minangkabau

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan beragam budaya, adat, dan tradisi salah satunya yaitu upacara adat Minangkabau yang akan kita akan bahas pada kesempatan kali ini.

Minangkabau atau disingkat Minang adalah kelompok etnis kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, dan identik dengan agama Islam.

Secara geografis Minangkabau berada dikawasan Sumatera Barat yang meliputi setengah daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pesisir barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.

Sejarah Suku Minangkabau

Sejarah suku Minang, Sumatera Barat

Suku Minangkabau atau Minang (seringkali disebut orang Padang) merupakan suku yang mayoritasnya berada di Provinsi Sumatera Barat.

Suku ini terkenal akan adatnya yang matrilineal, walaupun orang Minang sangat kuat memeluk agama Islam.

Adat basandi syara’, syara’, basandi Kitabullah (adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) merupakan cerminan adat Minang yang berlandaskan Islam.

Secara etimologi nama Minangkabau berasal dari dua kata yaitu Minang (menang), dan Kabau (kerbau). Nama tersebut berasal dari sebuah legenda.

Konon pada abad ke-13, kerajaan Singasari melakukan ekspedisi ke Minangkabau, Sumatera Barat.

Setelah suku Minang mengetahui akan kedatangan kerajaan Singasari. Masyarakat lokal mempunayi inisiatif agar diadakannya tradisi adu kabau (kerbau) antara kerbau Minang dan kerbau Jawa.

Kemudian pasukan kerajaan Majapahit yang waktu itu bersama kerajaan Singasari menyetujui usul tersebut dan menyediakan kerbau Jawa yang besar dan agresif.

Sementara itu, masyarakat Minang menyediakan seekor anak kerbau yang lapar, dan diberikan pisau pada tanduknya.

Dalam pertempuran tersebut, anak kerbau suku Minang mencari kerbau Jawa dan langsung mencabik-cabik perutnya, karena menyangka bahwa kerbau tersebut adalah induknya yang hendak menyusui.

Atas kejadian inilah masyarakat Minang memenangkan adu kabau tersebut dan atas peristiwa tersebut juga nama Minangkabau terbentuk.

Pahami juga:  Upacara Adat Bali

Macam-macam Upacara Adat Minangkabau

Bisa dikatakan bahwa suku Minangkabau, Sumatera Barat merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia. Mengapa demikian?

Karena suku Minangkabau mempunyai populasi yang sangat banyak yaitu mencapai 6,5 juta penduduk (sumber: id.wikipedia.org).

Maka tidak heran jika terdapat macam-macam upacara yang menarik dan unik serta penuh dengan nilai filosofis.

Nah, berikut ini adalah beberapa upacara adat Minangkabau yang masih berkembang dan dilaksanakan hingga sekarang.

1. Tabuik

Tradisi Tabuik suku Minang

Upacara Tabuik merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat) dalam rangka memperingati wafatnya Hassan dan Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini juga lebih dikenal dengan sebutan hari Asyura.

Berdasarkan sejarah tradisi Tabuik pertama kali dibawa dan dikenalkan oleh tentara Tamil yang berasal dari India pada tahun 1831.

Prosesi ini biasanya dilakukan selama satu minggu dengan perayaan puncak yang dinamakan “Hoyak Tabuik” yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram setiap tahun di Pariman.

Adapun makna dilakukannya Tabuik yaitu sebagai pengusungan jenazah.

Perlu diketahui bahwa tradisi Tabuik awalnya merupakan adat Syi’ah namun seiring berjalannya waktu penganut Sunni juga ikut melaksanakan upacara Tabuik ini.

Peringatan hari Asyura biasanya dilakukan di Pariaman dengan prosesi pelabuhan tabuik ke laut lepas.

Bagi masyarakat Minang tradisi Tabuik sangatlah penting karena untuk menghormati keluarga Nabi Muhammad SAW.

2. Batagak Panghulu

Batagak panghulu Sumatera Barat

Batagak panghulu merupakan upacara adat Minang dalam rangka pengangkatan dan peresmian seseorang menjadi penghulu.

Peresmian penghulu tidak dapat dilakukan oleh keluarga yang berkaitan akan tetapi peresmian ini harus berpedoman pada pepatah adat “mangkek rajo, sakoto alam, maangkek penghulu sakoto kaum”.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam upacara peresmian, antara lain:

  • Baniah ialah menentukan calon penghulu baru.
  • Dituah Cilakoy ialah dibicangkan baik buruknya calon dalam sebuah rapat.
  • Panyarahan Baniah yaitu penyerahan calon penghulu baru.
  • Manakok Ari yaitu perencanaan kapan acara peresmiannya dilangsungkan.

Biasanya peresmian penghulu dimulai dengan dengan rapat atau mufakat, setelah itu dibawa ke halaman, maksudnya dibawa masalahnya ke dalam kampung lalu diangkat ke tingkat suku dan akhirnya dibawa ke dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Peresmian pengangkatan penghulu sendiri dilakukan dengan upacara adat, upacara ini dinamakan malewakan gala.

Biasanya dihari pertama para tertua menyampaikan pidato, lalu para tertua mesangkan deta dan menyisipkan sebilah keris ke penghulu baru sebagai tanda serah terima jabatan, dan yang terakhir penghulu baru diambil sumpahnya.

3. Batagak Rumah

Tradisi Batagak Rumah Masyarakat Minang

Batagak Rumah merupakan upacara adat suku Minangkabau yang dilakukan ketika akan mendirikan rumah Gadang.

Rumah Gadang sendiri adalah rumah adat khas Sumatera Barat.

Dalam bahasa Minang, Gadang mempunyai arti “besar” karena pada kenyataannya rumah ini memiliki bentuk seperti badan kapal yang membesar keatas, rumah Gadang juga berjenis rumah panggung, persegi empat.

Semua bagian dalam rumah Gadang adalah ruangan lepas terkecuali kamar tidur. Rumah Gadang sendiri terbagi atas lanjar yang ditandai oleh tiang.

Tiang yang berurutan daeri depan ke belakang meandai lanjar, sebaliknya tiang dari ke kanan menandai ruang.

Jumlah lanjar biasanya tergantung pada besar atau kecilnya sebuah rumah, bisa dua, tiga sampai empat. Adapun untuk jumlah ruangannya selalu bersifat ganjil antara tiga sampai sebelas.

Lantainya sendiri terbuat dari kayu (papan), badannya terbuat dari papan yang diukir, sedangkan atapnya dari ijuk yang berbentuk gonjong (tanduk kerbau).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upacara mendirikan rumah Gadang, antara lain:

  • Mufakat Awal: dimulai dengan membahas letak rumah,ukuran, serta waktu pengerjaan.
  • Maleo Kayu: kegiatan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti kayu.
  • Mancatak Tiang Tuo: pengerjaan utama dalam pembuatan rumah.
  • Batagak Tiang: kegiatan ini dilakukan setelah bahan-sudah siap, yaitu saling bergotong royong dalam menegakkan tiang.
  • Manaiakkan Kudo-kudo: melanjutkan pembangunan rumah setelah tiang tiang selesai di ditegakkan.
  • Manaiak-i Rumah: acara terakhir dari upacara batagak rumah, yaitu perjamuan sebagai tanda terimakasih pada semua pihak yang sudah membantu dan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Baca Juga: Upacara Adat Aceh

4. Upacara Perkawinan

Prosesi adat pernikahan Minangkabau

Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan, perkawinan memerlukan adaptasi dalam banyak hal, baik itu dari  segi asal usul, kebiasaan hidup, tingkat sosial, tatakrama, bahasa dan pendidikan, karena beberapa hal tadi merupakan syarat utama dalam perkawinan.

Adapun syarat-syarat lain yang harus diperhatikan, salah satunya menurut Fiony Sukmasari dalam bukunya yang berjudul Perkawinan Adat Minangkabau adalah:

  • Kedua calon mempelai harus beragama Islam.
  • Kedua calon mempelai harus dapat saling menghormati dan mengahargai orang tua dari keluarga kedua belah pihak.
  • Kedua calon tidak memiliki hubungan sedarah maksudnya tidak berasal dari suku yang sama, terkecuali persukuan itu berasal dari nagari atau luhak yang lain.
  • Calon suami harus sudah mempunyai sumber penghasilan untuk dapat menjamin kelangsungan hidup keluarganya.

Perkawinan yang dilakukan tanpa memenuhi salah satu syarat diatas diangggap perkawinan haram.

Selain itu masih ada beberapa tatakrama dalam upacara adat yang harus dipenuhi seperti:

  • Pinang Maminang perundingan para kerabat untuk membicarakan calon suami untuk si gadis ( biasanya acara ini dilakukan oleh pihak perempuan.
  • Batimbang Tando upacara pertunangan
  • Malam Bainai adalah acara memerahkan kuku pengantin dengan daun pacar/inai yan telah di haluskan, yang diinai adalah kedua puluh kuku jari. Acara ini dilaksanakan di rumah pengantin wanita.
  • Pernikahan, pernikahan biasanya dilaksanakan di hari yang dianggap paling baik. biasanya kamis atau jumat.
  • Manjalang yaitu acara berkunjung, maksudnya kedua pengantin diiringi kerabat anak daro dan perempuan untuk mengunjungi jamba, semacam dulang berisi nasi dan lauk pauk.

5. Upacara Turun Mandi

Upacara Turun Mandi Sumatera Barat

Tradisi turun mandi merupakan upacara adat Minang yang dilaksanakan dalam rangka perayaan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah lahirnya seorang bayi baru kedunia.

Tujan dari upacara ini adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah keluarga atau kelompok tertentu. Biasanya upacara dilaksanakan ketika anak sudah menginjak usia 3 bulan.

Syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam upacara turun mandi, diantaranya:

  • Upacara ini harus dilakukan di batang aie (sungai).
  • Keluarga bayi menyediakan batiah bareh badulang yakni beras yang digoreng.
  • Terdapat sigi kain buruak, obor yang terbuat dari kain koyak (rusak).
  • Menyiapkan tampang karamabia tumbuah (bibit kelapa yang siap tanam).
  • Menyiapkan tangguak (tangguk).
  • Menyiapkan palo nasi (yang telah dilumuri dengan arang dan darah ayam).

6. Upacara Kekah

Tradisi Aqiqah suku Minang

Upacara kekah atau yang biasa disebut aqiqah, merupakan syariat agama Islam sebagai tanda rasa syukur atas titipan Allah SWT berupa anak kepada orang tuanya.

Aqiqah ini biasanya dilaksanakan pada hari ke-7 setelah si bayi lahir, dengan penyembelihan hewan qurban berupa domba/ kambing.

Pembagian dalam aqiqah:

  • Biasanya untuk anak laki-laki 2 ekor kambing.
  • Anak perempuan 1 ekor kambing.

7. Upacara Sunat Rasul

Sunat Rasul Suku Minangkabau

Upacara sunat rasul merupakan syariat Islam dan sebagai tanda pendewasaan bagi seorang anak.

Upacara ini biasanya diselenggarakan ketika si anak berumur 8-12 tahun, tradisi ini biasanya dilakukan di rumah ibu si anak atau dirumah keluarga terdekat.

Tradisi sunat rasul dimulai dengan pembukaan, kemudian si anak disunat, dan terakhir pembacaan doa.

8. Upacara Tamaik Kaji

Upacara Tamaik Kaji suku Minangkabau

Upacara tamaik kaji (khatam Qur’an) diselanggarakan bila seorang anak yang telah mengaji di pondok sebelumnya sudah tamat membaca al-Qur’an.

Acara ini diadakan di rumah ibu si anak atau juga bisa di pondok tempat si anak mengaji, setelah itu si anak akan suruh mengaji dihadapan seluruh orang yang hadir, dan dilanjutkan dengan acara makan bersama.

9. Upacara Kematian

Upacara Kematian suku Minang

Pergi melayat (ta’ziah) ke rumah orang yang sudah meninggal sudah menjadi adat bagi suku Minangkabau, tidak hanya karena anjuran agama Islam tetapi juga karena hubungan masyarakatnya yang sangat akrab.

Upacara kematian dalam adat Minangkabau merupakan suatu penghormatan terakhir pada almarhum/ ah. Pada upacara ini juga biasanya diiringi dengan pidato atau pasambahan adat.

Selanjutnya ada acara peringatan ke-7 hari (manujuah hari), peringatan ke-21 hari, peringatan ke-40 dan peringatan hari ke-100 (manyaratuih hari).

10. Pacu Jawi

Keunikan tradisi Pacu Jawi suku Minangkabau

Tradisi Pacu Jawi merupakan salah satu tradisi unik yang menjadi favorit masyarakat di Sumatera Barat.

Tradisi ini sering dilakukan khususnya oleh masyarakat yang bertempat tinggal di tanah datar seperti; masyarakat di Kec. Sungai Tarab, Rambatan, Limo kaum, dan Pariangan. Pacu Jawi juga kerap dilakukan di daerah Kab. Limapuluh Kota dan Payakumbuh.

Sekilas, tradisi Pacu Jawi mirip seperti tradisi Karapan Sapi yang dilakukan di Madura. Hal yang membedakannya adalah lahan yang digunakan.

Jika Karapan Sapi menggunakan sawah kering sebagai tempat festivalnya, berbeda dengan Pacu Jawi yang menggunakan sawah yang basah dan berlumpur.

Perbedaan lainnya yaitu untuk mempercepat lari sapi, jika biasanya joki Karapan Sapi menggunakan tongkat, Beda dengan joki Pacu Jawi yang hanya menggigit ekor sapi.

Biasanya tradisi Pacu Jawi ini dilakukan setiap setahun sekali yang diselanggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar.

11. Pacu Itiak

Tradisi Pacu Itiak Sumbar

Pacu Itiak atau Pacu Bebak merupakan tradisi yang berasal dari daerah Sumatera Barat khususnya di daerah Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Biasanya festival Pacu Itiak ini  dilaksanakan di 11 tempat yang berbeda di Kota Payakumbuh dan Kab. Limapuluh Kota.

Tradisi Pacu Itiak diperkirakan sudah ada sejak tahun 1928, bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Dalam festival Pacu Itiak ini ada beberapa ketentuan dan peraturan yang harus diperhatikan, antara lain:

  • Itiak yang dilombakan harus itik lokal, betina dan tuan antara 4-6 bulan.
  • Itiak tidak bisa terbang, sayapnya tidak boleh berpilin dan arah sayap harus keatas.

Tata cara perlombaan Pacu Itiak yaitudengan melemparkan Itiak, sehingga Itik pun terbang menuju garis finish dengan jarak lintasan yang sepanjang 800 m, 1.600 m, dan 2.000 m.

Baca skuy:) Rumah Adat Riau

12. Balimau

Tradisi Balimau masyarakat Minang

Balimau merupakan tradisi agama Hindu yang kaitannya sangat erat dengan masyarakat Sumatera Barat.

Biasanya kegiatan ini dilaksankan oleh masyarakat Minangkabau sebelum datang bulan Ramadhan tujuannya yaitu untuk menyucikan diri lahir dan batin.

Terdapat hal unik dari tradisi Balimau ini, yakni; cara mandinya menggunakan air limau (jeruk nipis).

Jeruk nipis dipercaya dapat membasuh kotoran serta keringat yang melekat pada kulit.

Dulu, pemilihan jeruk nipis pada tradisi Balimau adalah sebagai bentuk simbol mandi saat belum tersedianya sabun (warga Minang membersihkan diri dengan jeruk nipis).

Dan tentu saja, tempat mandi antara laki-laki dan wanita diharuskan ditempat yang tertutup.

Jika laki-laki mandi di sungai. Berbeda halnya dengan perempuan yang mandi ditempat pemandian yang lebih tertutup.

Namun, makin kesini dalam tradisi ini pun banyak terjadi penyimpangan yaitu banyak oknum pria maupun wanita yang sengaja mandi dalam satu tempat tanpa batas dengan yang bukan muhrim.

13. Makan Bajamba

Tradisi Makan Bajamba Sumatera Barat

Makan Bajamba adalah upacara adat suku Minangkabau, Sumatera Barat yang berupa kegiatan makan bersama di sebuah tempat yang sudah ditentukan.

Tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu untuk mendekatkan diri satu sama lain tanpa memandang kelas sosial seseorang.

Biasanya upacara ini diadakan secara resmi pada hari libur keagamaan atau ketika ada acara-acara penting lainnya.

Upacara Makan Bajamba diperkirakan masuk ke Sumatera Barat bersamaan dengan masuknya Islam ke Ranah Minang pada abad ke-7. Maka tidak heran jika banyak adab dalam Makan Bajamba yang sesuai dengan syariat Islam.

Demikian informasi mengenai beberapa macam upacara adat Minangkabau yang sudah dibahas lengkap beserta keunikanya.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar